Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Harga Minyak Dunia Naik 9 Hari Beruntun, Brent Hampir Tembus US$120

Hany Akasah • Kamis, 30 April 2026 | 18:25 WIB
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juni naik 63 sen atau 0,59 persen menjadi US$107,51 per barel.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juni naik 63 sen atau 0,59 persen menjadi US$107,51 per barel.

radarsurabayabisnis.id - Harga minyak dunia kembali melonjak tajam pada Kamis (30/4) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kebuntuan negosiasi antara Iran dengan Amerika Serikat serta Israel memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah Brent kontrak Juni naik US$1,91 atau 1,62 persen menjadi US$119,94 per barel. Kenaikan ini menandai tren positif selama sembilan hari berturut-turut. Sementara kontrak Juli yang lebih aktif turut menguat 0,85 persen ke level US$111,38 per barel.

Baca Juga: Perkuat Industri Susu Dalam Negeri, Bappenas Dorong Hilirisasi Peternakan Sapi Perah di Boyolali

Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juni naik 63 sen atau 0,59 persen menjadi US$107,51 per barel. Sebelumnya, WTI sempat melonjak hingga 7 persen dalam satu sesi perdagangan dan mencatat penguatan dalam delapan dari sembilan hari terakhir.

Lonjakan harga ini dipicu kekhawatiran pasar atas potensi gangguan pasokan, terutama setelah Presiden Donald Trump dilaporkan berdiskusi dengan perusahaan energi terkait dampak blokade terhadap Iran. Pembicaraan tersebut mencakup kemungkinan penutupan pelabuhan Iran dalam jangka waktu panjang.

Baca Juga: BPI Danantara Siapkan Investasi Rp170 Triliun untuk Hilirisasi Tahap 3

Kondisi ini semakin mempertegas kekhawatiran investor bahwa suplai energi global akan semakin ketat. Analis pasar IG, Tony Sycamore, menilai peluang penyelesaian konflik dalam waktu dekat masih minim, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak dunia.

Konflik yang berlangsung sejak akhir Februari itu telah menelan ribuan korban jiwa serta memicu salah satu gangguan energi terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Dari sisi pasokan, kelompok produsen minyak OPEC+ diperkirakan hanya akan menaikkan produksi secara terbatas, yakni sekitar 188 ribu barel per hari. Langkah ini dinilai belum cukup untuk menutup potensi kekurangan pasokan di pasar global.

Situasi semakin kompleks setelah Uni Emirat Arab memutuskan keluar dari OPEC mulai 1 Mei. Keputusan tersebut diperkirakan dapat melemahkan kemampuan organisasi dalam menjaga stabilitas harga minyak.

Analis dari Wood Mackenzie menyebut negara-negara Teluk membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memulihkan kapasitas produksi ke level sebelum konflik.

Dengan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, harga minyak diperkirakan tetap berfluktuasi dan berpotensi bertahan di level tinggi dalam waktu dekat.

Editor : Hany Akasah
#perang iran #bbm #harga minyak