RADAR SURABAYA BISNIS - Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk turut berperan aktif dalam mendukung program pemenuhan gizi nasional.
Salah satunya melalui pembentukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan kampus.
Menurut Dadan, institusi pendidikan tinggi memiliki posisi penting dalam menyukseskan program prioritas Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam upaya memperluas jangkauan layanan gizi kepada masyarakat.
Ia menilai kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga dapat menjadi motor penggerak dalam implementasi program berbasis praktik.
Baca Juga: Rupiah Kembali Terpuruk ke Level Terendah Sepanjang Masa, Faktor Global dan Domestik Jadi Pemicu
Melalui pembangunan dan pengelolaan SPPG secara mandiri, mahasiswa diharapkan dapat terlibat langsung dalam berbagai rantai kegiatan, mulai dari produksi pangan hingga distribusinya.
“Kampus perlu melihat ini sebagai peluang besar. Setidaknya memiliki satu SPPG terlebih dahulu, dan jika memungkinkan, pasokan bahan pangannya berasal dari civitas academica sendiri,” ujar Dadan dalam Forum U25 Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) di Makassar, Selasa (28/4).
Ia menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam program ini dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih aplikatif.
Baca Juga: Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo 30 April 2026, Minyak Goreng dan Garam Naik
Mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori di ruang kelas, tetapi juga praktik langsung di sektor pertanian, peternakan, hingga distribusi bahan pangan.
Dalam kesempatan tersebut, Dadan juga memberikan apresiasi kepada Universitas Hasanuddin yang menjadi perguruan tinggi negeri pertama yang telah mengimplementasikan program SPPG.
Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi kampus lain untuk ikut berpartisipasi.
Melalui kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi, program pemenuhan gizi nasional diharapkan dapat berjalan lebih optimal sekaligus mencetak sumber daya manusia yang memiliki pengalaman praktis di bidang pangan dan gizi. (iza/han)
Editor : Hany Akasah