radarsurabayabisnis.id - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) terus mempercepat langkah konsolidasi perusahaan pelat merah demi memperkuat daya saing BUMN di tingkat global. Melalui strategi perampingan besar-besaran, jumlah entitas BUMN yang saat ini mencapai sekitar 1.100 perusahaan ditargetkan menyusut menjadi hanya 257 perusahaan.
Langkah tersebut difokuskan pada perusahaan yang dinilai memiliki fundamental bisnis kuat, sehat, dan berkelanjutan untuk menghadapi persaingan internasional.
Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa restrukturisasi ini dilakukan sebagai upaya pembelajaran dari pengalaman masa lalu. Menurutnya, banyak perusahaan negara yang sebelumnya memiliki kinerja baik, namun akhirnya tutup akibat pengelolaan yang kurang optimal serta struktur bisnis yang terfragmentasi.
“Kita dulu kenal banyak perusahaan-perusahaan yang bagus yang hari ini sudah tutup. Tetapi dengan kita konsolidasikan menjadi satu kesatuan, hal ini tidak akan terjadi lagi,” ujar Dony dalam acara The Forum B-Universe di Hotel Mulia, Selasa (28/4).
daBaca Juga: Pos Indonesia Ditarget Jadi Raksasa Logistik, BP BUMN Dorong Transformasi Besar
Dony menjelaskan, proses streamlining atau perampingan dilakukan melalui fundamental business review secara menyeluruh. Pemerintah menetapkan empat pilar utama sebagai dasar penilaian terhadap masa depan setiap entitas BUMN.
Pilar pertama adalah global benchmarking, yakni membandingkan standar industri global berdasarkan lima aspek utama, meliputi model bisnis, sumber pendapatan, komposisi pendapatan, struktur biaya, dan margin EBITDA.
Kedua, market sizing analysis atau analisis ukuran pasar. Evaluasi dilakukan terhadap besarnya pasar yang digarap perusahaan, tren pertumbuhan pasar, hingga pangsa pasar yang dimiliki masing-masing entitas.
Baca Juga: Pemerintah Gabungkan 15 BUMN Logistik Jadi Satu Entitas, Target Selesai dalam Sebulan ke Depan
Ketiga, competitor analysis, yaitu identifikasi terhadap para pesaing utama, model bisnis yang dijalankan kompetitor, serta kekuatan yang mereka miliki dalam industri terkait.
Sementara pilar keempat adalah internal capability analysis yang mencakup kesehatan keuangan perusahaan dan kualitas sumber daya manusia untuk mengukur kemampuan menghadapi persaingan bisnis.
“Hasilnya apa? Kita masukkan ke dalam matriks sebagai bahan pertimbangan,” kata Dony.
Melalui pendekatan berbasis data tersebut, pemerintah berharap dapat menentukan secara presisi perusahaan mana yang layak dipertahankan, digabungkan untuk menciptakan skala ekonomi, maupun dihentikan operasionalnya demi meningkatkan efisiensi pengelolaan kas negara.
Strategi konsolidasi ini diharapkan menjadi langkah besar untuk membawa BUMN Indonesia naik kelas dan mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan global di masa depan.
Editor : Hany Akasah