RADAR SURABAYA BISNIS – Perusahaan Umum (Perum) Bulog melaporkan bahwa ketersediaan stok minyak goreng program pemerintah, Minyakita, saat ini mengalami kendala di sejumlah wilayah.
Hal ini dipicu oleh belum adanya tambahan pasokan dari produsen serta kendala distribusi yang belum merata, terutama di kawasan Indonesia Timur.
Kepala Divisi Perencanaan Operasi dan Analisis Harga Bulog, Muhammad Wawan Hidayanto, mengungkapkan bahwa keterbatasan stok ini menjadi hambatan utama dalam penyaluran Minyakita ke pasar rakyat.
Baca Juga: RI Masih Impor 83 Persen LPG, Pemerintah Siapkan Alternatif ini dari Dalam Negeri
"Minyakita komersial di beberapa wilayah memang sangat terbatas, belum ada tambahan pasokan lagi dari produsen," ujar Wawan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2026, Senin (27/4).
Berdasarkan data Bulog, sepanjang tahun 2026, sebanyak 92 ribu kiloliter Minyakita telah didistribusikan. Namun, tantangan geografis di wilayah Maluku dan Papua membuat biaya logistik membengkak, sehingga distribusi ke daerah pedalaman terhambat.
Kelangkaan stok Minyakita ini mulai berdampak pada perilaku konsumen. Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Tomsi Tohir, menyoroti adanya pergeseran permintaan masyarakat ke minyak goreng curah, yang kemudian memicu kenaikan harga.
Baca Juga: Fakta Unik 43.625 Jemaah Haji Embarkasi Surabaya, Mayoritas Petani dan IRT
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata harga minyak goreng nasional naik 1,50 persen pada pekan keempat April 2026. Kenaikan tertinggi terjadi pada minyak goreng curah yang menyentuh angka Rp19.648 per liter, naik signifikan dibanding harga bulan sebelumnya.
Meski distribusi di lapangan dirasa "seret", Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kemendag, Nawandaru Dwi Putra, meluruskan bahwa secara data nasional, pasokan sebenarnya mencukupi. Berdasarkan catatan Kemendag, terdapat sekitar 193.236 ton stok Minyakita nasional.
Nawandaru menekankan pentingnya optimalisasi distribusi agar tidak tercipta opini kelangkaan di masyarakat. Saat ini, fokus pemerintah adalah memastikan sisa stok yang ada segera terserap ke pasar rakyat untuk menekan laju kenaikan harga di tingkat konsumen.
Baca Juga: Dampak Larangan Bahan Tambahan Rokok Pada Industri Kretek, 186 Ribu Pekerja Terancam
Editor : Hany Akasah