RADAR SURABAYA BISNIS – Pemerintah melalui Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) mulai memperkuat strategi komodifikasi aset budaya Indonesia Timur untuk bersaing di level internasional.
Dalam agenda "Bacarita Basudara" yang digelar di Jakarta, Minggu (26/4/2026), Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menegaskan pentingnya mengubah narasi lokal menjadi aset bisnis digital yang kompetitif.
Irene mengungkapkan bahwa wilayah seperti Ternate dan Tidore memiliki potensi luar biasa yang selama ini hanya dikenal lewat sejarah rempahnya.
Baca Juga: OJK Perpanjang Batas Pelaporan SLIK hingga 2027, Tidak Jadi Berlaku 31 Juli 2025
Kedepannya, pemerintah mendorong adanya collective branding dan penggunaan hashtag terintegrasi agar produk kreatif daerah memiliki "taring" di pasar global tanpa harus meninggalkan kearifan lokal.
"Ekonomi kreatif adalah cara kita membawa cerita dari Timur ke forum global. Kita harus bergerak sebagai satu Indonesia dengan semangat gotong royong agar aset digital kita bisa 'menyerang' pasar dunia secara masif," ujar Irene Umar di hadapan para pemuda diaspora Maluku Utara.
Selain penguatan merek, strategi yang diusung mencakup pengembangan produk limited edition dan wisata eksklusif berbasis digital.
Baca Juga: Prediksi BMKG El Nino di Jatim Lebih Parah dari 2025, Ini Resikonya Menurut Khofifah Indar Parawansa
Langkah ini diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan dan memperkuat ekosistem kreatif nasional yang dimulai dari daerah.
Direktur Eksekutif APEKSI, Alwis Rustam, menambahkan bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah sangat krusial.
Infrastruktur dan regulasi yang ramah bagi pelaku kreatif lokal menjadi kunci agar inovasi anak muda di daerah bisa naik kelas ke level kebijakan nasional.
Editor : Hany Akasah