RADAR SURABAYA BISNIS – Pasar komoditas logam mulia tengah mengalami tekanan hebat pada pekan terakhir April 2026. Harga perak di pasar spot mencatatkan penurunan signifikan hingga lebih dari 6%, sebuah angka yang cukup mengejutkan bagi para investor komoditas di tengah ketegangan geopolitik global.
Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga perak kini bertengger di level US$75,62 per troy ons, merosot sekitar 6,4% dibandingkan posisi pekan lalu.
Padahal, secara historis, perak sering dianggap sebagai aset aman (safe haven) saat terjadi konflik. Namun, kali ini dinamika pasar menunjukkan pola yang berbeda.
Baca Juga: Tingkatkan Produktivitas Tanpa Burnout, 5 Cara Terapkan Soft Living dalam Operasional Kerja
Penyebab Harga Perak Ambles
Ada tiga faktor utama yang saling berkaitan di balik pelemahannya harga logam putih ini, yakni tekanan inflasi dari sektor energi, suku bunga AS yang tetap tinggi dan keperkasaan dolar AS.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu lonjakan harga minyak mentah. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi global yang sulit turun, yang pada akhirnya menekan daya beli di sektor industri.
Harapan investor akan pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) mulai memudar. Ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan di level tinggi dalam jangka waktu lebih lama membuat perak kehilangan daya tariknya dibandingkan aset berbunga seperti obligasi.
Baca Juga: Skema Baru Magang Nasional 2026, Perusahaan Bakal Ikut Tanggung Uang Saku Peserta
Menguatnya indeks Dolar AS membuat harga perak menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang selain Dolar. Selain itu, kenaikan yield obligasi pemerintah AS semakin menarik minat investor untuk beralih dari logam mulia.
Sebagai bahan baku penting dalam berbagai industri, permintaan perak juga dibayangi oleh ketidakpastian pertumbuhan ekonomi global.
Jika aktivitas manufaktur melambat akibat biaya energi yang tinggi, permintaan fisik terhadap perak diprediksi akan terus mengalami kontraksi dalam jangka pendek.
Editor : Hany Akasah