radarsurabayabisnis.id - Indonesia dinilai sebagai salah satu negara paling tahan menghadapi guncangan energi global 2026. Laporan terbaru dari JP Morgan Asset Management menempatkan Indonesia di posisi kedua negara paling resilien terhadap krisis energi dunia.
Dalam laporan bertajuk Eye on the Market: Pandora’s Bog – The Global Energy Shock of 2026 yang dirilis 21 Maret 2026, Indonesia mencatat skor insulation factor sebesar 77 persen. Angka ini hanya sedikit di bawah Afrika Selatan (79 persen), namun lebih tinggi dibandingkan Tiongkok (76 persen) dan Amerika Serikat (70 persen).
Baca Juga: Pemerintah Batasi Pembelian Beras SPHP Maksimal 25 Kg, Harga Dijamin Stabil
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut capaian tersebut sebagai bukti kuat bahwa kebijakan energi nasional berjalan konsisten dan tepat arah.
“Hasil ini bukan sekadar apresiasi atas kondisi saat ini, melainkan bukti konsistensi kebijakan energi nasional,” ujarnya di Jakarta, Jumat.
Menurut Airlangga, posisi Indonesia yang relatif tahan terhadap gejolak energi global memberikan dampak positif terhadap stabilitas ekonomi nasional. Salah satunya adalah ruang fiskal dalam APBN 2026 yang lebih terjaga, sehingga mampu melindungi daya beli masyarakat serta menjaga keberlangsungan dunia usaha.
Baca Juga: BI Targetkan QRIS Antarnegara dengan Cina Resmi Meluncur 30 April 2026
Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai berbagai risiko ke depan. Sejumlah langkah strategis akan terus diperkuat, mulai dari optimalisasi produksi minyak dan gas domestik hingga percepatan transisi menuju energi baru terbarukan (EBT).
Selain itu, pemerintah juga mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik berbasis baterai serta diversifikasi sumber pasokan dan jalur logistik energi guna mengantisipasi ketidakpastian geopolitik global.
Ketahanan energi Indonesia saat ini ditopang oleh dominasi sumber energi domestik. Produksi batu bara menyumbang sekitar 48 persen konsumsi energi nasional, diikuti gas bumi sebesar 22 persen, serta energi terbarukan sekitar 7 persen.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Usul Pajak Kapal di Selat Malaka, Contoh Strategi Iran di Selat Hormuz
Faktor lain yang memperkuat posisi Indonesia adalah rendahnya ketergantungan terhadap jalur distribusi energi global yang rawan gangguan. Impor minyak dan gas melalui Selat Hormuz tercatat hanya sekitar 1 persen dari total konsumsi energi nasional.
Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan negara lain seperti Korea Selatan (33 persen), Taiwan dan Thailand (27 persen), hingga Singapura (26 persen) yang sangat bergantung pada jalur tersebut.
Dalam analisisnya, JP Morgan menilai negara-negara maju seperti Italia, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Belanda menjadi yang paling rentan terhadap krisis energi akibat tingginya ketergantungan impor.
Sebaliknya, negara berkembang seperti Indonesia, China, India, Afrika Selatan, Vietnam, dan Filipina justru memperoleh keuntungan dari ketersediaan sumber energi domestik, terutama batu bara, selama periode guncangan energi global.
Dengan capaian ini, pemerintah berkomitmen menjaga momentum ketahanan energi nasional sekaligus memastikan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku usaha di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Editor : Hany Akasah