Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Harga Emas Dunia Terus Merosot, Analis Ungkap Target Penurunan Selanjutnya

Hany Akasah • Jumat, 24 April 2026 | 08:31 WIB
ILUSTRASI: Tumpukan batang emas murni di atas grafik pergerakan harga saham dan komoditas yang menunjukkan tren fluktuatif.
ILUSTRASI: Tumpukan batang emas murni di atas grafik pergerakan harga saham dan komoditas yang menunjukkan tren fluktuatif.

RADAR SURABAYA BISNIS – Pergerakan harga emas dunia (XAU/USD) terpantau masih berada dalam tekanan besar pada perdagangan pekan ini. 

Dominasi sentimen bearish, baik secara teknikal maupun fundamental, memaksa logam mulia ini menjauh dari zona hijaunya setelah gagal mempertahankan momentum penguatan.

Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan bahwa secara teknikal, struktur harga emas saat ini menunjukkan tren penurunan yang kian solid. Hal ini terlihat jelas dari posisi harga yang masih tertahan di bawah indikator Moving Average (MA) periode 21 dan 34.

Baca Juga: Harga BBM Nonsubsidi Resmi Naik April 2026, Menteri ESDM Batasi Pembelian Pertalite!

"Selama harga belum mampu menembus level resistance dinamis tersebut secara valid, potensi pembalikan arah masih tergolong terbatas. Bahkan, setelah sempat terkoreksi naik, emas kembali melanjutkan pola primary downtrend," ungkap Geraldo dalam keterangan resminya, Kamis (23/4/2026).

Dalam skenario jangka pendek, Geraldo memproyeksikan harga emas berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area support terdekat di level 4.669. Jika tekanan jual masih berlanjut dan level tersebut ditembus, target penurunan berikutnya diprediksi berada di kisaran 4.607.

Area ini dipandang sebagai titik krusial yang akan menentukan apakah tekanan *bearish* akan berlanjut lebih dalam atau mulai terjadi konsolidasi harga.

Baca Juga: Jejak Pusat Produksi Batu Merah di Gunungsari Surabaya, Bahan Pembakaran dan Cara Kirim Sangat Unik

Dari sisi fundamental, keperkasaan Dolar Amerika Serikat (AS) menjadi faktor utama yang menekan harga emas. Kenaikan nilai tukar Dolar membuat emas—yang dibanderol dalam mata uang tersebut—menjadi lebih mahal bagi investor global, sehingga permintaan cenderung menyusut.

Selain itu, kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) yang masih mempertahankan suku bunga tinggi turut memperberat langkah emas. 

Suku bunga tinggi meningkatkan daya tarik aset berbasis imbal hasil seperti obligasi pemerintah AS, sehingga meningkatkan opportunity cost dalam memegang emas yang tidak menghasilkan bunga.

Baca Juga: KPK Periksa Ustaz Khalid Basalamah Terkait Kasus Kuota Haji, Meski Sudah Mengembalikan Uang

Kondisi pasar yang cenderung risk-on—di mana investor lebih berani mengambil risiko pada aset ekuitas—semakin memperkuat bias bearish bagi XAU/USD saat ini. 

"Selama emas belum mampu menembus area kunci resistensi, prospek jangka pendek masih akan dibayangi tekanan jual yang cukup kuat," tutup Geraldo.

Baca Juga: Mendag Usulkan Harga Minyakita Naik, 3 Tahun Stagnan Jadi Alasan

Editor : Hany Akasah
#dolar as #emas #investor #melemah #analis