Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Jejak Pusat Produksi Batu Merah di Gunungsari Surabaya, Bahan Pembakaran dan Cara Kirim Sangat Unik

Lambertus Hurek • Kamis, 23 April 2026 | 19:23 WIB
KENANGAN: Batu merah yang diproduksi di Gunungsari siap dikirim lewat Sungai Kalimas.
KENANGAN: Batu merah yang diproduksi di Gunungsari siap dikirim lewat Sungai Kalimas.

radarsurabayabisnis.id - Kawasan Gunungsari pernah menjadi pusat aktivitas industri batu merah yang menggerakkan ekonomi rakyat pada masa lampau. Catatan sejarah yang dimuat dalam majalah Sin Po tahun 1940 menggambarkan betapa sibuknya tepian Sungai Kalimas, atau yang juga dikenal sebagai Kali Surabaya, dipenuhi para pekerja yang memproduksi puluhan hingga ratusan ribu bata setiap harinya.

Baca Juga: Produksi Beras Jawa Timur Surplus 50 Persen, Stok Aman Hadapi El Nino 2026

Proses pembuatan batu merah saat itu masih sangat sederhana. Para pekerja memulai dengan merendam lumpur di lubang besar, kemudian mencampurnya dengan pasir hingga membentuk adonan menyerupai lempung. Adonan tersebut lalu dicetak di atas tanah lapang yang rata dan bersih sebelum dijemur hingga mengering.

Setelah cukup kering, bata mentah ditumpuk hingga menggunung, menyerupai benteng kecil. Di bagian tengah tumpukan dimasukkan kayu dan rerumputan sebagai bahan bakar. Proses pembakaran berlangsung selama beberapa hari, bukan dengan api besar, melainkan bara dari rerumputan yang menghasilkan panas merata. Dari teknik tradisional ini, dihasilkan bata merah berkualitas yang siap digunakan sebagai bahan bangunan.

Baca Juga: Voucher Parkir Surabaya Resmi Masuk Minimarket, Tarif Motor Rp2.000 dan Mobil Rp5.000 Tanpa Biaya Tambahan

Industri ini melibatkan banyak tenaga kerja, baik laki-laki maupun perempuan. Meski upah yang diterima relatif kecil dan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, aktivitas produksi tetap berjalan tanpa henti, menjadi roda penggerak ekonomi masyarakat setempat. Selain industri bata, kawasan ini juga dikenal dengan peternakan sapi perah yang memasok susu bagi masyarakat Eropa dan Tionghoa pada masa itu.

Salah satu keunikan industri batu merah Gunungsari terletak pada sistem distribusinya. Ribuan bata yang telah selesai dibakar diangkut menggunakan rakit sederhana, lalu dihanyutkan mengikuti arus Sungai Kalimas menuju pusat kota Surabaya. Pada masa itu, sungai menjadi jalur transportasi utama yang efisien dan ekonomis.

Baca Juga: Dibiayai Pusat, Pemkot Surabaya Fokus Siapkan Lahan untuk Koperasi Merah Putih

Namun, seiring perkembangan zaman, industri batu merah di Gunungsari perlahan menghilang. Perubahan fungsi lahan serta kemajuan teknologi dalam produksi bahan bangunan membuat metode tradisional ini semakin ditinggalkan. Kini, kebutuhan batu merah di Surabaya lebih banyak dipasok dari daerah lain seperti Gresik dan wilayah lain di Jawa Timur.

Meski jejaknya mulai pudar, kisah industri batu merah Gunungsari tetap menjadi bagian penting dari sejarah panjang Surabaya sebagai kota yang tumbuh dari kerja keras masyarakatnya.

Editor : Hany Akasah
#gunungsari #Surabaya heritage #Surabaya Kota Lama #kalimantan barat