radarsurabayabisnis.id - Pemerintah mulai menggeser arah pembangunan ekonomi Indonesia. Tak lagi hanya fokus pada stabilitas, kini targetnya adalah pertumbuhan yang lebih produktif, bernilai tambah, dan mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa Indonesia tengah memasuki fase baru pembangunan ekonomi yang lebih berorientasi pada produktivitas dan keberlanjutan.
Dalam keterangannya, ia menjelaskan bahwa transformasi tersebut didorong melalui tiga pilar utama, yakni investasi, industrialisasi, dan peningkatan produktivitas.
Baca Juga: Setelah 15 Tahun, Tim Cook Mundur sebagai CEO Apple, Ini Sosok Penggantinya John Ternes
“Kita mendorong industri hilir, memperkuat sektor manufaktur, serta meningkatkan sumber daya manusia dan efisiensi,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian agenda IMF–World Bank Spring Meeting yang berlangsung pada 13–17 April di Washington, DC, Amerika Serikat.
Menurutnya, kinerja ekonomi Indonesia saat ini relatif kuat dibandingkan negara-negara G20 maupun negara berkembang lainnya. Hal ini tercermin dari pertumbuhan yang stabil, inflasi yang rendah, serta defisit dan rasio utang yang tetap terjaga.
Baca Juga: Pos Indonesia Ditarget Jadi Raksasa Logistik, BP BUMN Dorong Transformasi Besar
Peran APBN dinilai krusial sebagai shock absorber untuk menjaga daya beli masyarakat, sekaligus memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga di tengah tekanan global.
Pemerintah juga berkomitmen menjaga disiplin fiskal dengan mempertahankan defisit di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Selain itu, pemerintah akan mengoptimalkan sinergi kebijakan fiskal dan moneter, serta memanfaatkan peran Danantara dalam mendorong mobilisasi investasi di luar APBN.
Baca Juga: ESDM Jawa Timur Sebut Stok LPG Aman tapi Harga Naik, Ternyata Ini Biang Keroknya
Dalam forum internasional tersebut, Menkeu juga menyampaikan optimisme bahwa ekonomi Indonesia mampu tumbuh di kisaran 5,4 hingga 6 persen pada 2026, meski di tengah ketidakpastian global.
Optimisme ini didukung oleh fondasi ekonomi yang kuat. Pada 2025, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,11 persen, sementara neraca perdagangan mencatat surplus 1,27 miliar dolar AS pada Februari 2026, melanjutkan tren surplus selama 70 bulan berturut-turut.
Kinerja tersebut ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat, inflasi terkendali, serta keberlanjutan program hilirisasi.
Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai dinamika global, termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga energi.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah menyiapkan bantalan fiskal untuk meredam dampak kenaikan harga dan menjaga stabilitas bahan bakar bersubsidi.
Ke depan, pemerintah juga akan terus mendorong efisiensi belanja negara serta mempercepat transformasi struktural guna memperkuat daya tahan ekonomi nasional.
Editor : Hany Akasah