Indonesia Hentikan Impor Solar Mulai Juli 2026, B50 Berbasis Sawit Siap Diterapkan

Hany Akasah • Dipublikasikan Senin, 20 April 2026 | 14:23 WIB
B50 menjadi langkah strategis pemerintah dalam mengurangi ketergantungan impor solar mulai 2026. (Kementerian ESDM)
B50 menjadi langkah strategis pemerintah dalam mengurangi ketergantungan impor solar mulai 2026. (Kementerian ESDM)

RADAR SURABAYA BISNIS - Upaya pemerintah dalam memperkuat kemandirian energi nasional terus menunjukkan perkembangan signifikan.

Salah satu langkah terbaru yang disiapkan adalah penghentian impor bahan bakar jenis solar mulai pertengahan tahun 2026, seiring dengan implementasi bahan bakar alternatif berbasis kelapa sawit.

Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan bahwa Indonesia akan menghentikan impor solar mulai 1 Juli 2026.

Kebijakan ini akan berjalan beriringan dengan penerapan program biodiesel 50 persen atau B50 yang berbasis minyak sawit.

Baca Juga: Lolos dari Blokade, Kapal Tanker LPG Tujuan Indonesia Berhasil Lintasi Selat Hormuz

"Solar kita tidak impor lagi. Tahun 2026 pada 1 Juli kita stop, B50 masuk," kata Amran saat melakukan kunjungan ke Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Minggu (19/4/2026).

Menurutnya, kebijakan ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi impor sekaligus memaksimalkan potensi sumber daya dalam negeri, khususnya komoditas kelapa sawit.

Amran menjelaskan bahwa pemanfaatan sawit tidak terbatas hanya sebagai bahan baku biodiesel.

Komoditas tersebut juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan bakar lain seperti bensin dan etanol, yang saat ini tengah didorong percepatan pengembangannya oleh pemerintah.

Baca Juga: Percepat Swasembada Pangan, Pemerintah Tugaskan Bulog Kebut Proyek Infrastruktur Pangan Rp 5 Triliun

Sebagai langkah awal, pemerintah juga menjajaki kerja sama dengan PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) untuk mengembangkan bensin berbasis sawit dalam skala terbatas. Program ini nantinya akan diperluas jika hasilnya dinilai optimal.

"Kalau ini berhasil, kita buka skala besar. Jadi masa depan Indonesia cerah," tutur Amran.

Dalam kunjungan tersebut, Amran turut meninjau berbagai inovasi teknologi yang dikembangkan oleh ITS.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah penggunaan traktor listrik yang dinilai lebih efisien serta tidak bergantung pada bahan bakar fosil.

Sebagai bentuk dukungan terhadap inovasi tersebut, Kementerian Pertanian langsung melakukan pemesanan sebanyak 10 unit traktor listrik untuk keperluan uji coba.

Baca Juga: Fasad Eks Toko Nam di Embong Malang Segera Dibongkar, Kembalikan Pedestrian dengan Penanda Baru

Teknologi ini diharapkan dapat menjadi alternatif dalam mendukung modernisasi sektor pertanian yang lebih ramah lingkungan dan hemat energi.

Dengan berbagai langkah ini, pemerintah optimistis Indonesia dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong transformasi menuju pemanfaatan energi terbarukan yang lebih berkelanjutan di masa depan. (iza/han)

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
sawit biodiesel b50 its solar