RADAR SURABAYA BISNIS – Di tengah fluktuasi harga energi global, satu kapal tanker bermuatan Liquefied Petroleum Gas (LPG) dengan tujuan Indonesia dilaporkan sukses melintasi Selat Hormuz pada Sabtu (18/4).
Keberhasilan ini menjadi krusial mengingat jalur perdagangan vital tersebut kembali ditutup oleh otoritas Iran tak lama setelahnya.
Berdasarkan data dari perusahaan analitik pelayaran, Kpler, kapal tanker berbendera Panama bernama Crave menjadi salah satu dari sekian banyak kapal yang berupaya mengamankan jalur sebelum eskalasi ketegangan meningkat.
Baca Juga: Percepat Swasembada Pangan, Pemerintah Tugaskan Bulog Kebut Proyek Infrastruktur Pangan Rp 5 Triliun
Kapal Crave diketahui mengangkut muatan LPG dari Uni Emirat Arab (UEA) yang ditujukan untuk memasok kebutuhan energi di Indonesia.
Penutupan kembali Selat Hormuz oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dipicu oleh tuduhan terhadap Amerika Serikat yang dianggap mengganggu kesepakatan gencatan senjata sementara.
Penutupan ini terjadi kurang dari 24 jam setelah jalur sempat dibuka singkat, yang sebelumnya sempat memberikan sentimen positif berupa penurunan harga minyak global.
Baca Juga: Fasad Eks Toko Nam di Embong Malang Segera Dibongkar, Kembalikan Pedestrian dengan Penanda Baru
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya sempat menyatakan jalur terbuka sepenuhnya untuk kapal komersial. Namun, situasi berubah cepat setelah Teheran menilai Washington melakukan tindakan "ceroboh".
Bagi sektor bisnis dan energi nasional, keberhasilan kapal Crave melintas memberikan nafas lega sementara. Selat Hormuz merupakan titik transit bagi sepertiga pengiriman minyak mentah dunia lewat laut.
Gangguan berkelanjutan di wilayah ini berpotensi memicu lonjakan biaya logistik dan harga bahan bakar di pasar domestik.
Baca Juga: Detail Harga Emas Pegadaian Hari Ini 20 April 2026, Antam, Galeri24 dan UBS Stagnan, Waktunya Beli?
Analis Kpler mencatat bahwa volume lalu lintas kapal pada akhir pekan lalu merupakan yang tertinggi sejak awal Maret 2026, menunjukkan adanya urgensi dari perusahaan pelayaran untuk keluar dari zona konflik sebelum blokade total diberlakukan kembali.
Editor : Hany AkasahSumber : radar surabaya bisnis