Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Harga Plastik Naik, Pengusaha Dilema Naikkan Harga atau Kurangi Porsi

Hany Akasah • Senin, 20 April 2026 | 09:04 WIB
ILUSTRASI: Produk camilan dalam kemasan plastik yang terbuka.
ILUSTRASI: Produk camilan dalam kemasan plastik yang terbuka.

RADAR SURABAYA BISNIS – Industri makanan dan minuman (mamin) serta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini tengah dibayangi fenomena shrinkflation. 

Ancaman ini muncul menyusul melonjaknya harga bahan baku plastik akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan naphta global.

Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, memperingatkan bahwa kenaikan harga plastik berdampak signifikan karena komponen ini berkontribusi sekitar 10 hingga 15 persen terhadap harga jual produk. 

Baca Juga: Rekor Pecah! 129 Ribu Turis Asing Serbu Kereta Api Indonesia di Awal 2026, Stasiun Ini Jadi Favoritnya

Menurutnya, pengusaha kini dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga jual atau mengurangi ukuran produk demi menjaga margin keuntungan.

"Fenomena shrinkflation atau penyusutan ukuran produk dengan harga tetap sangat berpotensi terjadi. Langkah ini biasanya diambil pelaku usaha untuk menghindari penurunan daya beli konsumen jika harga dinaikkan secara langsung," ujar Huda dalam keterangannya.

Konflik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Iran dan Israel yang memicu penutupan jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz, menjadi penyebab utama terhambatnya pasokan naphta—bahan baku utama plastik. Saat ini, sekitar 60 persen kebutuhan naphta nasional masih bergantung pada impor dari kawasan tersebut.

Baca Juga: Vape Diduga Jadi Modus Baru Narkoba, Cak Imin Minta Aturan Ketat Segera Diterapkan

Merespons kondisi ini, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan pemerintah tengah bergerak cepat mencari alternatif pasokan bahan baku dari negara lain, seperti India, Amerika, hingga negara-negara di Afrika. Langkah ini diambil untuk memastikan ketersediaan bahan baku di pasar domestik tetap terjaga.

Senada dengan Mendag, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita terus mendorong optimalisasi penggunaan LPG sebagai bahan baku penyangga serta penggunaan plastik daur ulang berkualitas tinggi.

Pemerintah menjamin bahwa meskipun harga sedang fluktuatif, stok produk plastik di pasar tetap aman bagi industri hilir maupun masyarakat luas.

Baca Juga: Target Swasembada Gula, Kementan Kucurkan Rp1,3 Triliun untuk Perluas Lahan Tebu

Editor : Hany Akasah
#produk #harga #plastik #ekonom #kecil