radarsurabayabisnis.id - Pada era 1950-an, wajah pers di Kota Pahlawan begitu semarak. Sedikitnya 13 surat kabar pernah terbit dan meramaikan dinamika informasi di Surabaya.
Mengacu pada Almanak Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Timur, keragaman media saat itu bahkan melampaui bahasa. Tak semua koran menggunakan bahasa Indonesia—tiga di antaranya terbit dalam bahasa Mandarin, dua menggunakan bahasa Belanda, dan satu koran hadir dalam bahasa Jawa, yakni Espres yang dipimpin Ajat.
Baca Juga: Update Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Hari Ini, Cabai dan Bawang Kompak Turun
Beberapa nama koran yang sempat eksis antara lain Suara Rakjat, Harian Umum, Suara Masjarakat, Trompet Masjarakat, Expres, Pewarta Soerabaja, Perdamaian, Java Post, New Soerabajasch Handelsblad, De Vrije Pers, Hua Chiao Hsin Wen, Tjay Kong Siang Poo, hingga Sin Kwang Daily Press.
Salah satu yang menarik adalah Java Post dan Hua Chiao Hsin Wen milik The Chung Sen yang pernah berkantor di kawasan Kembang Jepun. Kini, bangunan tersebut digunakan oleh koran Radar Surabaya.
Baca Juga: Semakin Banyak Lansia Butuh Kerja, Kemnaker RI Siapkan Regulasi Baru
Aktivis sejarah “Jejak Tempo Doeloe”, Yonas Mawa, mengungkapkan bahwa banyak dari koran tersebut tidak mampu bertahan menghadapi perubahan zaman.
Suara Rakjat, misalnya, akhirnya berhenti terbit. Pemimpin redaksinya, Abdul Aziz, kemudian mendirikan Surabaya Post, yang sempat menjadi salah satu koran terbesar di Jawa Timur.
Namun, setelah kepemimpinan beralih ke Tuty Aziz, koran tersebut mengalami konflik internal hingga akhirnya gulung tikar beberapa tahun kemudian.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Hapus Denda PBB Cukup Bayar Pokoknya Saja, Gratiskan Denda PBB Sejak 1994
Menariknya, meski mayoritas warga Surabaya kala itu menggunakan bahasa Jawa sehari-hari, koran Espres justru tidak bertahan lama. Minimnya oplah menjadi penyebab utama.
Sementara itu, dua koran berbahasa Belanda harus tutup setelah kebijakan Soekarno melarang penggunaan bahasa Belanda di ruang publik dan media massa.
Nasib serupa dialami tiga koran berbahasa Mandarin yang dibubarkan pada 1966, setelah kebijakan rezim Orde Baru melarang penggunaan bahasa dan aksara Tionghoa.
Dari belasan koran yang pernah berjaya di era tersebut, kini hanya satu yang tetap bertahan, yakni Jawa Pos—yang merupakan transformasi dari Java Post.
“Jawa Pos luar biasa karena mampu melewati berbagai tantangan zaman yang tidak mudah,” ujar Yonas.
Editor : Hany Akasah