Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Indonesia Targetkan Ekspor 1,5 Juta Ton Pupuk Urea saat Pasokan Global Terganggu Konflik Geopolitik

Hany Akasah • Jumat, 17 April 2026 | 12:12 WIB
ILUSTRASI: Pupuk Urea Indonesia yang direncanakan akan diekspor ke sejumlah negara di tengah ketegangan geopolitik global
ILUSTRASI: Pupuk Urea Indonesia yang direncanakan akan diekspor ke sejumlah negara di tengah ketegangan geopolitik global. (ANTARA FOTO)

RADAR SURABAYA BISNIS - Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global yang berdampak pada rantai pasok energi dan komoditas, Indonesia melihat peluang untuk memperluas pasar ekspor, khususnya pada sektor pupuk.

Gangguan distribusi global yang dipicu konflik di kawasan Timur Tengah turut mendorong lonjakan harga pupuk urea di pasar internasional.

Pemerintah Indonesia berencana mengekspor sekitar 1,5 juta ton pupuk urea pada tahun 2026.

Langkah ini diambil seiring adanya potensi kelebihan produksi dalam negeri di tengah meningkatnya permintaan global.

Baca Juga: Rupiah Dibuka Anjlok Tipis, Mata Uang di Asia Kompak Tunjukkan Pelemahan

Ekspor tersebut ditargetkan ke sejumlah negara, yakni India, Filipina, Brasil, dan Australia.

Informasi tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, usai melakukan pertemuan dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier, di Jakarta pada Rabu (15/4).

Sudaryono menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang memicu ketidakstabilan pasokan pupuk global adalah terganggunya jalur distribusi di kawasan Selat Hormuz.

Jalur tersebut diketahui menjadi lintasan penting bagi sekitar sepertiga distribusi pupuk dunia.

Baca Juga: Update Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Hari Ini, Cabai dan Bawang Kompak Turun

Ketika terjadi gangguan di wilayah tersebut, dampaknya langsung terasa pada pasokan global dan harga komoditas. Akibat kondisi tersebut, harga pupuk urea mengalami lonjakan signifikan.

Jika sebelumnya berada di kisaran 600 hingga 700 dolar AS per ton, kini harganya mendekati 900 dolar AS per ton.

Kenaikan ini dipicu oleh terbatasnya pasokan di tengah meningkatnya kebutuhan dari berbagai negara yang terdampak gangguan distribusi.

Dalam situasi ini, Indonesia dinilai memiliki posisi yang cukup kuat karena mampu memproduksi pupuk urea secara mandiri.

Hal ini didukung oleh ketersediaan gas alam sebagai bahan baku utama yang berasal dari dalam negeri.

Baca Juga: Koreksi Terus Berlanjut, Harga Emas Antam Turun di Perdagangan Jumat

“Untuk urea, kita bisa mencukupi tanpa impor karena bahan bakunya gas alam dan tersedia di dalam negeri,” ujar Sudaryono dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (15/4).

Ia menambahkan bahwa kapasitas produksi pupuk urea nasional saat ini mencapai sekitar 14,5 juta ton per tahun.

Sementara itu, kebutuhan dalam negeri masih berada di bawah angka tersebut, sehingga terdapat potensi surplus sekitar 1,5 juta ton yang dapat dimanfaatkan untuk ekspor.

Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa rencana ekspor tersebut tetap akan mempertimbangkan kondisi dalam negeri.

Baca Juga: Sinyal Positif! Pemerintah Lanjutkan Program Magang Fresh Graduate 2026, Targetkan 150 Ribu Peserta

Prioritas utama tetap diberikan pada pemenuhan kebutuhan pupuk bagi petani lokal guna menjaga stabilitas produksi pangan nasional.

Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menghadapi berbagai risiko global, termasuk dampak konflik geopolitik dan potensi gangguan iklim seperti El Niño.

Dengan memastikan ketersediaan pupuk di dalam negeri, pemerintah berharap ketahanan pangan nasional tetap terjaga di tengah situasi global yang tidak menentu. (iza/han)

Editor : Hany Akasah
#urea #pupuk #geopolitik #ekspor #global