radarsurabayabisnis.id - Tim Bayucaraka dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Mengusung inovasi tiga drone pintar, tim ini sukses meraih Juara 3 dalam ajang bergengsi Singapore Amazing Flying Machine Competition (SAFMC) 2026 yang digelar di Singapore Expo Hall 2B, Singapura.
Bertanding di kategori High-Speed Drone Flock, Tim Bayucaraka ITS menurunkan tiga armada andalan bernama SoeroNgajeng, SoeroMadya, dan SoeroWingking. Ketiganya dirancang untuk mampu melewati berbagai rintangan secara berkelompok dengan sistem otomatis penuh.
Baca Juga: Sukses Raup Rp650 Miliar, Deretan Inovasi Kampus ITS Ini Kini Diburu Investor Dunia
Penanggung jawab tim, Okta Dewa Arjun, menjelaskan bahwa keunggulan utama drone mereka terletak pada penggunaan teknologi Light Detection and Ranging (LiDAR) berbasis deteksi gerbang lintasan. Pendekatan ini berbeda dari kebanyakan tim lain yang mengandalkan kamera.
“Dengan LiDAR, drone tetap presisi mendeteksi objek meski kondisi pencahayaan berubah-ubah,” jelasnya, Rabu (15/4).
Inovasi ini terbukti efektif di arena perlombaan. Dari 15 tim se-Asia Tenggara yang berpartisipasi, Tim Bayucaraka menjadi satu-satunya yang mampu menyelesaikan seluruh misi dengan poin sempurna.
Tak hanya presisi, performa drone juga menjadi nilai unggulan. Kecepatan terbang mencapai tiga meter per detik dengan daya tahan hingga 15 menit, membuatnya stabil sekaligus kompetitif di lintasan berkecepatan tinggi.
Meski sempat menghadapi kendala teknis pada sensor ketinggian salah satu drone akibat usia komponen, tim mampu mengatasinya dengan cepat berkat koordinasi yang solid.
Keberhasilan ini turut didukung oleh Ketua Tim Farrel Ganendra dan perwakilan penerima penghargaan, Sebastian Adrian Nugraha, yang merupakan mahasiswa Teknik Komputer ITS angkatan 2023.
Baca Juga: RoboDog ITS Sukses Dikendalikan dari Barcelona Tanpa Jeda, Menuju Debut di Ajang Internasional
Ke depan, Tim Bayucaraka berencana mengembangkan riset lebih lanjut dengan menambahkan modul Global Positioning System (GPS). Pengembangan ini ditujukan untuk menciptakan sistem pesawat formasi otonom yang lebih kompleks dan adaptif.
Prestasi ini bukan hanya menjadi kebanggaan bagi ITS, tetapi juga bukti bahwa inovasi teknologi karya anak bangsa mampu bersaing di tingkat internasional.
“Kami bangga bisa membawa pulang medali dari Singapura. Ini jadi motivasi untuk terus berkontribusi bagi almamater dan bangsa,” tutup Okta.
Editor : Hany Akasah