radarsurabayabisnis.id - Keterbatasan lahan di perkotaan sering dianggap sebagai penghambat untuk bercocok tanam. Namun, anggapan itu dipatahkan oleh warga di Kampung Hidroponik Surabaya. Sejak 2019, kawasan ini berkembang menjadi contoh nyata bagaimana urban farming di lahan sempit mampu menjadi gerakan lingkungan sekaligus sumber ekonomi warga.
Berawal dari kegiatan sederhana seperti bank sampah dan penghijauan, warga mulai melangkah lebih jauh dengan mencoba sistem hidroponik. Ketua Kampung Hidroponik Surabaya, Renni Sussilawati, mengungkapkan bahwa semuanya dimulai dari nol, bahkan tanpa pemahaman dasar tentang hidroponik.
Baca Juga: Bukan Cuma Hama, Ikan Sapu-sapu Invasif Kini Jadi Momok Bagi Industri Perikanan Lokal
“Awalnya kami benar-benar belajar dari awal, termasuk membuat proposal dan RAB. Untungnya ada dukungan CSR perbankan yang mendampingi kami sampai bisa berjalan,” ujarnya, Rabu (15/4).
Program ini mulai dijalankan pada Oktober 2019 di empat titik lahan. Berbagai tanaman seperti pakcoy, selada, kangkung, dan bayam mulai dibudidayakan menggunakan sistem hidroponik yang hemat lahan.
Namun, perjalanan mereka tidak selalu mulus. Saat pandemi Covid-19 melanda pada awal 2020, aktivitas warga harus dibatasi. Pengelolaan kebun pun hanya dilakukan oleh segelintir orang.
Baca Juga: Update Harga Sembako Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo Hari Ini 16 April, Cek Rinciannya
“Waktu itu hanya dua sampai tiga orang yang ke kebun. Bahkan seperti diam-diam karena aturan sangat ketat,” kenang Renni.
Meski begitu, justru di tengah keterbatasan tersebut, kebun hidroponik menjadi ruang “healing” bagi warga. Aktivitas berkebun membantu menjaga kesehatan mental sekaligus mempererat kebersamaan.
Memasuki 2021, dukungan dari pengurus lingkungan semakin kuat. Edukasi tentang hidroponik digencarkan hingga tingkat RT dan PKK, sehingga seluruh warga memiliki pemahaman dasar tentang sistem pertanian modern ini.
Baca Juga: Dulu Jadi “Tameng Hidup”, Kini Arek Suroboyo Diminta Jaga Ruh Kota Surabaya
“Harapannya semua warga paham. Jadi kalau ada tamu datang, mereka bisa menjelaskan prosesnya,” jelasnya.
Seiring waktu, jumlah kebun sempat berkembang hingga enam titik. Namun, keterbatasan lahan kembali menjadi tantangan. Beberapa lokasi terpaksa ditutup karena lahan digunakan kembali oleh pemiliknya.
Kini, tersisa tiga titik aktif. Untuk menjaga keberlanjutan gerakan ini, warga mengembangkan konsep “belajar sebaya” dengan menggandeng wilayah lain agar bisa menerapkan hidroponik secara mandiri.
“Kami ingin gerakan ini tidak berhenti di sini. Harus bisa berkembang ke kampung lain yang punya lahan,” pungkas Renni.
Kisah Kampung Hidroponik Surabaya menjadi bukti bahwa lahan sempit bukan halangan untuk produktif. Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, urban farming bisa menjadi solusi nyata untuk lingkungan sekaligus meningkatkan ekonomi warga.
Editor : Hany Akasah