Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Industri Semen RI Krisis Oversupply, Stok 55 Juta Ton Menganggur Apa Penyebabnya?

Hany Akasah • Kamis, 16 April 2026 | 07:49 WIB
SIAP: Proses bongkar muat produk zak Semen Gresik untuk siap diangkut ke truk distribusi semen di Dermaga Terminal Khusus (Tersus) SIG di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
SIAP: Proses bongkar muat produk zak Semen Gresik untuk siap diangkut ke truk distribusi semen di Dermaga Terminal Khusus (Tersus) SIG di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

RADAR SURABAYA BISNIS – Industri semen nasional saat ini tengah menghadapi tantangan berat akibat ketidakseimbangan antara kapasitas produksi dan daya serap pasar. 

Ketua Pengawas Asosiasi Perusahaan Semen Indonesia (Asperindo), Christian Kartawijaya, mengungkapkan bahwa saat ini terjadi penumpukan stok semen mencapai 55 juta ton yang belum terserap pasar.

Kondisi oversupply atau kelebihan pasokan ini dipicu oleh penurunan permintaan yang signifikan, terutama pada segmen semen curah yang anjlok hingga 8,3%. 

Baca Juga: Update Bansos 2026, 11 Ribu Nama Dicoret dari Daftar, Cek Aturan Baru Kemensos!

Christian menyebutkan bahwa melambatnya realisasi proyek infrastruktur nasional menjadi faktor utama di balik lesunya konsumsi semen saat ini.

"Anggaran infrastruktur kita yang semula di angka Rp400-an triliun menurun menjadi hanya Rp85 triliun. Hal ini menyebabkan berbagai pembangunan melambat dan tidak berjalan sesuai ekspektasi," ujar Christian dalam acara Halal Bihalal di Jakarta (14/4).

Dampak dari penurunan permintaan ini langsung memukul utilisasi pabrik. Banyak fasilitas produksi kini beroperasi di bawah kapasitas optimal karena stok yang terus menumpuk di gudang. 

Baca Juga: Harga Plastik Kemasan Makin Ekstrim, Pedagang Es Sidoarjo Serba Salah, Dengarkan Keluhannya

Masalah semakin pelik dengan adanya tambahan kapasitas baru dari pabrik yang masih dalam tahap pembangunan sebesar 4 juta ton, yang diprediksi akan semakin memperlebar celah antara pasokan dan permintaan.

Selain tekanan dari sisi permintaan, para pelaku industri juga harus menghadapi lonjakan biaya operasional. Harga bahan bakar industri dilaporkan meningkat tajam antara 50% hingga 70%. Selain itu, gangguan pasokan bahan baku seperti batu split juga turut mengganggu efisiensi produksi dan distribusi.

"Kenaikan harga energi ini berdampak langsung pada biaya operasional, mulai dari aktivitas penambangan hingga proses distribusi ke konsumen," tambahnya.

Baca Juga: Beasiswa Tangguh 2026 Dibuka! Tersedia 23 Ribu Akses Kuliah Gratis , Ini Syarat dan Cara Daftarnya

Situasi ini menuntut langkah strategis dari pemerintah dan pelaku industri untuk menjaga kesehatan industri semen nasional agar tetap kompetitif di tengah tekanan ekonomi global dan domestik.

Editor : Hany Akasah
#produksi #infrastruktur #semen #naik #proyek