Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Sejarah Panjang Gedung Bank Mega Kembang Jepun, Dari Pusat Dagang Jawa–Tiongkok–Jepang Hingga Diakuisisi Chairul Tanjung

Lambertus Hurek • Rabu, 15 April 2026 | 15:29 WIB
BANGUNAN antik di Jalan Kembang Jepun 180 ini dulunya kantor Java-China-Japan-lijn (JCJL).
BANGUNAN antik di Jalan Kembang Jepun 180 ini dulunya kantor Java-China-Japan-lijn (JCJL).

radarsurabayabisnis.id - Bangunan antik di Jalan Kembang Jepun No. 180, Surabaya, menyimpan jejak panjang sejarah perdagangan internasional yang pernah berjaya di Kota Pahlawan. Gedung tua ini dulunya merupakan kantor Java-China-Japan-lijn (JCJL), sebuah perusahaan pelayaran internasional yang menghubungkan jalur dagang antara Jawa, Tiongkok, hingga Jepang.

Pada masanya, JCJL menjadi bagian penting dari denyut ekonomi global yang berpusat di kawasan Kembang Jepun. Namun, operasional perusahaan ini akhirnya terhenti akibat dampak Perang Dunia, yang turut mengubah peta bisnis dan pelayaran internasional.

Baca Juga: Inilah Sejarah Terminal Joyoboyo Dulunya Stasiun Trem, Jadi Simpul Transportasi Surabaya Sejak Era Kolonial

Setelah itu, gedung bersejarah ini sempat dimanfaatkan oleh perusahaan milik Oei Tiong Ham, sosok konglomerat yang dikenal sebagai “raja gula” Asia Tenggara. Dengan jaringan bisnis yang luas, kehadiran Oei Tiong Ham di Surabaya semakin mengukuhkan kawasan Kembang Jepun sebagai pusat ekonomi strategis pada masa itu.

Dari sisi arsitektur, bangunan ini masih mempertahankan karakter aslinya. Fasad klasik, proporsi jendela yang khas, serta struktur bangunan menunjukkan gaya arsitektur kolonial yang kuat. Meski telah mengalami sejumlah modifikasi dan sentuhan modern, identitas historis gedung ini tetap terasa kental.

Baca Juga: Rumah Radio Bung Tomo di Surabaya Hilang, Presiden Prabowo: Jangan Hapus Sejarah Bangsa

Catatan dari Surabaya Benedenstad menyebutkan bahwa gedung ini merupakan bagian penting dari lanskap kota lama Surabaya. Kawasan ini dulunya menjadi pusat aktivitas perdagangan, perkantoran, hingga lalu lintas keuangan sejak era Hindia Belanda hingga masa awal kemerdekaan Indonesia.

Transformasi gedung ini berlanjut pada 15 April 1969, ketika mulai digunakan sebagai kantor Bank Karman (Karya Aman). Perjalanan bisnisnya pun tidak selalu mulus. Memasuki era 1990-an, bank tersebut mengalami guncangan sebelum akhirnya diakuisisi oleh pengusaha nasional Chairul Tanjung dan bertransformasi menjadi Bank Mega seperti yang dikenal saat ini.

Kini, gedung di Kembang Jepun 180 bukan sekadar bangunan tua. Ia menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah ekonomi, arsitektur, dan transformasi bisnis di Surabaya yang terus berkembang dari masa ke masa.

Editor : Hany Akasah
#Surabaya heritage #Surabaya Kota Lama #bank mega #kota lama #sejarah Surabaya