Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Ngopi Sambil Diceramahi Budaya Jawa: Awalnya Cari WiFi, Malah Betah Penuh Cerita dan Sedikit Mistis

Andy Satria • Rabu, 15 April 2026 | 17:25 WIB
Sasana Bhagavadgita, di kedai kopi ini pengunjung dapat melihat berbagai elemen budaya Jawa seperti gamelan, wayang kulit, hingga keris yang tertata rapi.
Sasana Bhagavadgita, di kedai kopi ini pengunjung dapat melihat berbagai elemen budaya Jawa seperti gamelan, wayang kulit, hingga keris yang tertata rapi.

radarsurabayabisnis.id - Tren kedai kopi Surabaya terus mengalami perkembangan yang menarik. Tidak hanya sekadar menyajikan minuman, kini banyak pelaku usaha menghadirkan konsep unik yang sarat makna dan pengalaman berbeda bagi pengunjung.

Salah satu yang mencuri perhatian adalah Kedai Sasana Bhagavadgita yang menggabungkan budaya ngopi dengan kesenian tradisional Jawa. Berlokasi di kawasan Dukuh Pakis, Surabaya, kedai ini hadir dengan suasana yang berbeda dari kafe pada umumnya.

Baca Juga: Tarif Hanya Rp5.000, TransJatim Ekspedisi Kini Bikin Pedagang dan UMKM Lebih Cuan

Di dalam kedai, pengunjung dapat melihat berbagai elemen budaya Jawa seperti gamelan, wayang kulit, hingga keris yang tertata rapi. Nuansa ini sengaja dihadirkan tidak hanya sebagai dekorasi, tetapi juga sebagai sarana edukasi sekaligus upaya pelestarian budaya.

Pemilik kedai, Arya Sasikirana, mengungkapkan bahwa konsep tersebut berawal dari kecintaannya terhadap budaya Jawa. Ia memanfaatkan rumah milik eyangnya yang telah lama menyimpan berbagai perlengkapan seni tradisional.

Menurut Arya, sayang jika aset budaya tersebut tidak dimanfaatkan. Dari situlah muncul ide untuk menggabungkan kedai kopi dengan ruang budaya yang terbuka bagi masyarakat.

Baca Juga: Harga Bahan Pokok Surabaya, Gresik, Sidoarjo Fluktuatif, Daging dan Telur Turun

Menariknya, Arya mengaku tidak memiliki latar belakang di dunia kuliner. Ide membuka kedai kopi justru muncul dari hobinya yang gemar mengunjungi berbagai kafe. Bersama rekannya, ia kemudian memberanikan diri merintis usaha tersebut.

Lebih dari sekadar tempat ngopi, kedai ini juga menjadi ruang berkumpul bagi para seniman muda. Arya yang saat ini menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia Surakarta aktif mendalami seni pedalangan dan karawitan.

Ia pun menyediakan panggung kecil untuk pertunjukan seni. Setiap bulan, kedai ini rutin menggelar acara sebagai wadah bagi seniman muda untuk tampil dan bertukar ide.

Baca Juga: Investasi Q1 2026 Tembus Rp 497 Triliun, Serap Ratusan Ribu Tenaga Kerja Baru

Edukasi menjadi misi utama yang diusung. Arya melihat masih banyak generasi muda yang belum memahami budaya Jawa secara mendalam. Melalui konsep kedai ini, ia ingin menghadirkan pengalaman belajar yang santai, dekat, dan relevan dengan gaya hidup anak muda.

Kedai yang berdiri sejak September 2025 ini terbuka untuk berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga keluarga. Nama Sasana Bhagavadgita sendiri memiliki makna sebagai tempat berkumpul untuk mendapatkan pencerahan.

Meski berada di tengah permukiman, keberadaan kedai ini tidak menimbulkan gangguan bagi warga sekitar. Lingkungan tersebut memang sudah akrab dengan aktivitas seni, karena sejak dulu dikenal sebagai tempat tinggal seorang dalang.

Fenomena ini semakin menegaskan bahwa tren kedai kopi Surabaya tidak hanya soal rasa, tetapi juga pengalaman, edukasi, dan identitas budaya yang semakin kuat.

Editor : Hany Akasah
#kedai kopi surabaya #warkop surabaya #kedai kopi #UMKM surabaya