radarsurabayabisnis.id - Di tengah lonjakan harga minyak dunia yang menembus 100 dolar AS per barel, muncul peluang besar bagi Indonesia untuk mendapatkan pasokan energi dengan harga jauh lebih murah.
Pakar energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menilai Indonesia bisa memperoleh minyak dari Rusia dengan harga yang lebih kompetitif dibandingkan pasar global.
Menurutnya, harga minyak Rusia saat ini berada di kisaran 59 dolar AS per barel, jauh di bawah harga minyak dunia yang kini berada di sekitar 100 dolar AS per barel.
Baca Juga: RI Alihkan Impor Minyak ke Amerika dan Afrika, Tak Gantungkan Lagi Jalur Timur Tengah
“Bahkan dengan harga normal 60–70 dolar AS, minyak Rusia tetap lebih murah,” ujarnya.
Kondisi ini tidak lepas dari sanksi embargo yang dijatuhkan negara-negara Barat terhadap Rusia sejak 2022. Dampaknya, harga minyak Rusia sempat anjlok hingga 25 dolar AS per barel pada 2025, jauh di bawah harga minyak dari kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, lonjakan harga minyak global saat ini dipicu konflik geopolitik, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak pada penutupan jalur strategis Selat Hormuz.
Sebagai jalur distribusi sekitar 20 persen minyak dunia, gangguan di wilayah ini langsung mendorong harga minyak melonjak tajam, bahkan sempat menyentuh 116 dolar AS per barel.
Baca Juga: Makkah Route Juanda Hampir Rampung, Layanan Haji 2026 Satu Atap, Tak Perlu Lagi Antre Lama
Meski demikian, peluang Indonesia tetap terbuka. Dengan tambahan biaya logistik sekitar 30 persen, harga minyak Rusia yang diterima Indonesia diperkirakan berada di kisaran 76,7 hingga 80 dolar AS per barel.
Angka tersebut masih jauh lebih murah, bahkan bisa hemat hingga 31–51 persen dibandingkan harga puncak minyak global.
Yayan menilai harga tersebut masih berpotensi lebih rendah jika kerja sama strategis antara Prabowo Subianto dan Vladimir Putin berjalan optimal.
Pemerintah Indonesia sendiri mulai serius menjajaki kerja sama energi ini. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyebut pembahasan tidak hanya soal perdagangan minyak, tetapi juga pengembangan kilang dan pemanfaatan teknologi energi.
Kerja sama ini juga membuka peluang kolaborasi di sektor energi bersih sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Di tengah ketidakpastian global, langkah ini menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan energi nasional sekaligus menekan biaya impor energi.
Editor : Hany Akasah