radarsurabayabisnis.id - Program TransJatim Ekspedisi mulai menunjukkan dampak nyata bagi ekonomi rakyat, terutama pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari aktivitas pasar dini hari. Dengan tarif hanya Rp 5.000 sekali jalan, layanan ini dinilai mampu memangkas biaya distribusi sekaligus meningkatkan pendapatan.
Pengamat kebijakan publik dari Pusat Kajian Strategis Global Pro-Eksistensi, Linawati Louise, menilai pendekatan ini sebagai langkah penting dalam menjadikan transportasi publik sebagai motor penggerak ekonomi.
Baca Juga: Kenaikan Harga Plastik Mulai Memukul Pelaku UMKM di Surabaya, Dilema Menaikkan Harga Produk
“Transportasi publik tidak cukup hanya efisien, tapi juga harus memberi nilai ekonomi nyata bagi masyarakat kecil,” ujarnya, Kamis (10/4).
Selama ini, keberhasilan transportasi sering diukur dari jumlah penumpang. Namun bagi pedagang, faktor utama justru terletak pada kecepatan, biaya murah, dan kepastian perjalanan.
Data tahun 2024 mencatat TransJatim telah melayani sekitar 4,7 juta perjalanan. Angka ini menjadi fondasi kuat untuk mengembangkan layanan yang lebih berdampak langsung pada sektor ekonomi kecil.
Baca Juga: Kenaikan Harga Plastik Mulai Memukul Pelaku UMKM di Surabaya, Dilema Menaikkan Harga Produk
Menurut Lina, desain program ini sudah menyentuh kebutuhan riil pedagang. Mulai dari kepastian jadwal, tarif terjangkau, hingga fasilitas angkut barang.
“Kalau waktu, biaya, dan muatan terpenuhi, ekonomi pedagang otomatis bergerak,” jelasnya.
Tak hanya mengangkut penumpang, TransJatim juga dirancang membawa barang dagangan. Bus dilengkapi rak lipat, pelapis anti-basah, dan pengaturan kapasitas muatan, sehingga lebih aman dan efisien.
Salah satu pedagang asal Trawas merasakan langsung manfaatnya. Ia berangkat pukul 04.30 membawa empon-empon, alpukat, dan singkong menuju Pasar Mojosari, lalu melanjutkan distribusi ke Porong hingga Larangan.
Dengan ongkos hanya Rp 5.000 antar pasar, biaya distribusi jauh lebih murah dibandingkan angkutan konvensional.
Efeknya pun berlapis. Mulai dari penurunan biaya logistik mikro, stabilnya pendapatan pedagang, hingga peluang usaha baru di sekitar halte dan terminal.
Meski demikian, masih ada tantangan yang perlu dibenahi, seperti waktu tunggu bus dan keterbatasan kapasitas. Karena itu, peningkatan disiplin operasional, jadwal yang konsisten, serta pengawasan berbasis data menjadi kunci keberhasilan ke depan.
“Dampaknya mungkin tidak langsung besar ke PAD, tapi stabil dan mampu memperkuat ekonomi lokal,” tutup Lina.
Editor : Hany Akasah