Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Harga Kedelai Impor Melonjak, Produsen Tahu-Tempe Kian Tertekan

Hany Akasah • Kamis, 9 April 2026 | 12:35 WIB
ILUSTRASI: Kedelai sebagai bahan baku utama tahu dan tempe mengalami kenaikan harga impor
ILUSTRASI: Kedelai sebagai bahan baku utama tahu dan tempe mengalami kenaikan harga impor

RADAR SURABAYA BISNIS - Kedelai merupakan salah satu bahan pangan penting bagi masyarakat Indonesia, terutama sebagai bahan baku utama dalam produksi tahu dan tempe yang menjadi konsumsi sehari-hari.

Stabilitas harga komoditas ini sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan usaha para pelaku industri kecil hingga menengah di sektor pangan.

Namun, pada akhir Maret 2026, harga kedelai impor mengalami kenaikan signifikan.

Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp 9.800 per kilogram kini melonjak menjadi Rp 10.600 per kilogram.

Baca Juga: Target 30 Ribu Kopdes Merah Putih Beroperasi Agustus 2026, Kini Terintegrasi Klinik dan Apotek

Kenaikan ini langsung memicu kekhawatiran di kalangan produsen tahu dan tempe yang sangat bergantung pada pasokan kedelai impor.

Lonjakan harga tersebut tidak lepas dari tekanan global yang memengaruhi rantai pasok komoditas pangan.

Gangguan distribusi internasional serta meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, turut mendorong kenaikan harga kedelai di pasar global.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada harga kedelai yang masuk ke Indonesia.

Baca Juga: Pelatihan Vokasi Nasional 2026 Resmi Dimulai, Targetkan 70 Ribu Peserta Perkuat Daya Saing Tenaga Kerja

Ketergantungan terhadap impor membuat fluktuasi harga internasional sangat cepat dirasakan di dalam negeri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pasokan kedelai Indonesia masih didominasi oleh beberapa negara utama.

Amerika Serikat menjadi pemasok terbesar dengan volume mencapai 2.214.138 ton, menjadikannya mitra dagang utama Indonesia untuk komoditas kedelai.

Di posisi berikutnya, Kanada menyuplai sekitar 290.416 ton. Sementara itu, sejumlah negara di kawasan Amerika Latin juga turut berkontribusi, seperti Uruguay dengan 21.429 ton, Brasil sebesar 20.997 ton, serta Bolivia yang memasok sekitar 4.292 ton kedelai.

Dominasi negara-negara tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap impor kedelai.

Baca Juga: Pemerintah Siapkan Rp 1,7 Triliun untuk Peremajaan Tebu, Target Swasembada Gula 2027

Bahkan, dalam kesepakatan dagang terbaru dengan Amerika Serikat, Indonesia berkomitmen untuk mengimpor sekitar 3,8 juta ton tepung kedelai dan 3,5 juta ton kedelai utuh setiap tahun selama lima tahun ke depan.

Ketergantungan ini membuat industri dalam negeri rentan terhadap gejolak harga global.

Kenaikan harga kedelai impor secara langsung berdampak pada meningkatnya biaya produksi, terutama bagi pelaku usaha tahu dan tempe.

Biaya bahan baku yang semakin tinggi, ditambah dengan kenaikan biaya operasional lainnya seperti kemasan, membuat margin keuntungan para pengrajin semakin tertekan.

Baca Juga: Rupiah Tertekan di Level Psikologis, Ketidakpastian Global dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu

Dalam kondisi seperti ini, pelaku usaha dihadapkan pada pilihan sulit antara menaikkan harga jual atau menanggung penurunan keuntungan.

Secara keseluruhan, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi sektor pangan berbasis kedelai di Indonesia.

Upaya untuk mengurangi ketergantungan impor serta memperkuat produksi dalam negeri dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas harga dan keberlanjutan industri ke depan. (iza/han)

Editor : Hany Akasah
#tempe #tahu #pasar #kedelai #impor