Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

70 Persen Energi Asia Timur Bergantung pada Indonesia, Prabowo: Kita Kunci Dunia!

Hany Akasah • Kamis, 9 April 2026 | 07:58 WIB
Presiden Prabowo Subianto memberikan taklimat mengenai posisi strategis jalur perdagangan Indonesia dan stabilitas energi global dalam Rapat Kerja Pemerintah di Istana Merdeka.
Presiden Prabowo Subianto memberikan taklimat mengenai posisi strategis jalur perdagangan Indonesia dan stabilitas energi global dalam Rapat Kerja Pemerintah di Istana Merdeka.

RADAR SURABAYA BISNIS – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa Indonesia memiliki posisi yang sangat krusial dalam peta ekonomi dan energi global.

Dalam arahannya di Istana Merdeka, Rabu (8/4), Presiden menyoroti bahwa jalur laut Indonesia merupakan urat nadi bagi stabilitas ekonomi negara-negara besar di Asia Timur.

Presiden Prabowo membandingkan situasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz, dengan jalur maritim Indonesia. Jika Selat Hormuz yang dikendalikan satu negara mampu mengguncang harga minyak dunia, maka Indonesia memiliki peran yang jauh lebih luas dalam distribusi komoditas global.

Baca Juga: RI Alihkan Impor Minyak ke Amerika dan Afrika, Tak Gantungkan Lagi Jalur Timur Tengah

"Sadarkah kita bahwa 70 persen kebutuhan energi Asia Timur, 70 persen energi dan 70 persen perdagangan lewat laut-laut Indonesia? Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Makassar adalah kunci," ujar Presiden Prabowo di hadapan jajaran Kabinet Merah Putih.

Menurut Presiden, negara-negara industri seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Tiongkok, hingga Filipina sangat bergantung pada keamanan dan kelancaran jalur maritim Indonesia. 

Hal ini menjadikan Indonesia sebagai pemain kunci yang menentukan hidup-matinya ekonomi di kawasan tersebut.

Baca Juga: SIL Festival 2026, Cara Pemkot Surabaya Buka Lowongan Kerja dan Bawa UMKM Naik Kelas

Waspadai Politik Pecah Belah Global

Selain menyoroti aspek ekonomi, Presiden juga mengingatkan pentingnya pemahaman sejarah dalam membaca dinamika global saat ini.

Ia menekankan bahwa kekuatan asing sejak lama menggunakan ambisi ego dan praktik devide et impera (politik pecah belah) untuk menguasai sumber daya.

"Kita tidak sadar justru ratusan tahun ego ambisi ini digunakan kekuatan asing. Itu namanya devide et impera. Ini bukan hal baru, sudah ada di buku sejarah ribuan tahun," tegasnya.

Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bagi para pelaku usaha dan pemangku kebijakan untuk memperkuat kedaulatan ekonomi nasional di tengah konflik global yang kian memanas. 

Baca Juga: Nama Lesti Kejora Dicatut Giveaway Palsu, Rizky Billar Sampai Turun Tangan Temui Korban

Dengan kendali atas jalur perdagangan yang begitu vital, Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan posisi tawar ini untuk kepentingan pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih berkelanjutan.

Editor : Hany Akasah
#perdagangan #prabowo #indonesia #maritim #presiden