radarsurabayabisnis.id - Harga plastik di Indonesia dilaporkan melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan, sejumlah pelaku usaha mengaku harga bahan plastik naik hingga dua kali lipat di tingkat pedagang.
Di tengah kekhawatiran soal kelangkaan, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan pasokan plastik nasional masih aman dan aktivitas industri tetap berjalan.
Baca Juga: Gencatan Senjata AS-Iran Bikin Harga Minyak Dunia Anjlok dan Dolar AS Melemah
Menurut Agus, lonjakan harga plastik dipicu oleh gejolak geopolitik global, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan nafta. Nafta merupakan bahan baku utama industri petrokimia dan plastik.
Konflik Timur Tengah Bikin Harga Plastik Naik
Menperin menjelaskan konflik di Timur Tengah telah memicu gangguan distribusi bahan baku dari kawasan tersebut. Akibatnya, biaya produksi di industri hulu ikut meningkat.
“Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah telah memicu koreksi suplai pada sektor-sektor industri yang bergantung pada nafta sebagai bahan baku utama,” ujar Agus Gumiwang dalam keterangan resmi, Rabu (8/4).
Gangguan pasokan nafta membuat harga plastik di tingkat produsen melonjak 30 hingga 60 persen. Sementara di tingkat pedagang, harga beberapa jenis plastik bahkan naik sampai dua kali lipat.
Baca Juga: Harga Bahan Baku Plastik Melonjak 60 Persen, UMKM Surabaya Didorong Inovasi Kemasan
Kenaikan paling terasa terjadi pada kebutuhan sehari-hari seperti kantong plastik, plastik kemasan, hingga sedotan. Pedagang kecil mengaku biaya operasional mereka ikut membengkak karena harus membeli plastik dengan harga lebih mahal.
Menperin Pastikan Pasokan Plastik Nasional Tetap Aman
Meski harga melonjak, pemerintah menegaskan pasokan plastik nasional masih aman. Kementerian Perindustrian menyebut berbagai langkah mitigasi telah dilakukan agar stok bahan baku dan produk jadi tetap tersedia.
“Pemerintah menegaskan bahwa saat ini upaya pengamanan pasokan terus berjalan secara paralel,” kata Agus.
Kemenperin bersama pelaku industri menjalankan beberapa strategi utama, di antaranya:
- mencari sumber pasokan nafta alternatif di luar Timur Tengah,
- mengoptimalkan penggunaan LPG sebagai bahan baku penyangga,
- meningkatkan pemanfaatan plastik daur ulang berkualitas tinggi sebagai pengganti.
Langkah ini dilakukan untuk mencegah kelangkaan yang lebih parah dan menjaga pasokan untuk kebutuhan industri serta masyarakat.
Industri Kemasan Masih Ekspansi, Tapi Pelaku Usaha Mulai Kesulitan
Berdasarkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI), sektor industri kemasan pada Maret 2026 masih berada dalam fase ekspansi tinggi. Artinya, aktivitas produksi dinilai masih berjalan normal dan stok produk plastik secara umum masih mencukupi.
Namun, di lapangan sejumlah pelaku usaha mulai mengeluhkan sulitnya memperoleh bahan kemasan plastik.
Baca Juga: Jaga Kelancaran Logistik, TPS Gelar Simulasi BCMS untuk Uji Ketahanan Operasional Terminal
Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, mengungkapkan pihaknya mulai kesulitan mendapatkan plastik untuk distribusi pangan. Padahal hampir seluruh produk pangan, mulai dari beras, minyak goreng, hingga pupuk, sangat bergantung pada kemasan berbahan plastik.
Kondisi ini membuat pelaku industri makanan dan minuman berada dalam posisi sulit. Selain stok yang mulai terbatas, mereka juga harus menghadapi kenaikan biaya produksi akibat harga plastik yang semakin mahal.
Harga Plastik Naik, Apa Dampaknya bagi Masyarakat?
Lonjakan harga plastik diperkirakan dapat memicu kenaikan harga berbagai produk sehari-hari. Sebab, sebagian besar barang kebutuhan rumah tangga dan pangan menggunakan kemasan plastik.
Jika harga plastik terus naik, produsen kemungkinan akan menaikkan harga jual produk agar bisa menutup biaya produksi.
Karena itu, perkembangan konflik Timur Tengah dan pasokan nafta global diperkirakan masih akan menjadi faktor penting yang menentukan stabilitas harga plastik di Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.
Editor : Hany Akasah