radarsurabayabisnis.id - Harga minyak dunia anjlok tajam setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu di kawasan Timur Tengah. Kesepakatan ini langsung disambut positif pasar global karena membuka kembali jalur energi melalui Selat Hormuz, jalur vital yang sebelumnya sempat ditutup Iran.
Pembukaan Selat Hormuz menjadi faktor paling menarik perhatian investor. Jalur ini diketahui mengalirkan sekitar 20 persen pasokan energi dunia. Ketika akses kembali dibuka, kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak langsung mereda.
Baca Juga: Harga Bahan Baku Plastik Melonjak 60 Persen, UMKM Surabaya Didorong Inovasi Kemasan
Akibatnya, harga minyak mentah dunia hari ini langsung merosot tajam. Harga minyak berjangka Amerika Serikat turun hingga 15 persen ke level US$96,31 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent melemah 13 persen menjadi US$94,71 per barel.
Penurunan ini menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, pasar sempat khawatir konflik Timur Tengah akan memicu lonjakan harga energi dan membuat harga minyak dunia menembus US$100 per barel.
Selat Hormuz Dibuka Lagi, Bursa Saham Global Langsung Melonjak
Di saat harga minyak dunia anjlok, pasar saham global justru langsung melesat. Investor menilai gencatan senjata AS-Iran dapat meredakan risiko perang yang lebih luas di Timur Tengah.
Indeks S&P 500 di Amerika Serikat melonjak 2,5 persen. Bursa saham Eropa bahkan mencatat kenaikan lebih dari 5 persen. Di Asia, indeks Nikkei Jepang menguat 5 persen, sedangkan KOSPI Korea Selatan naik hingga 6 persen.
Baca Juga: Bangkit dari Tekanan, Rupiah Menguat Tipis di Pembukaan Perdagangan Hari Ini
Kenaikan tajam di pasar saham terjadi karena investor kembali berani masuk ke aset berisiko setelah sebelumnya memilih bertahan di instrumen aman.
Tidak hanya saham, obligasi pemerintah Amerika Serikat juga ikut menguat. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun ke 4,241 persen, level terendah sejak pertengahan Maret.
Penurunan imbal hasil ini muncul karena pasar mulai memperkirakan Federal Reserve berpeluang menurunkan suku bunga pada akhir tahun jika situasi geopolitik tetap membaik.
Dolar AS Melemah, Tetapi Analis Masih Skeptis
Meski pasar merespons positif, sejumlah analis menilai euforia ini belum tentu bertahan lama. Dolar Amerika Serikat tercatat melemah karena investor mulai mengalihkan dana ke aset lain.
Namun, para analis mengingatkan bahwa gencatan senjata dua minggu belum cukup untuk menjamin perdamaian permanen. Konflik mendasar antara Amerika Serikat dan Iran masih belum terselesaikan.
Baca Juga: Pemerintah Gabungkan 15 BUMN Logistik Jadi Satu Entitas, Target Selesai dalam Sebulan ke Depan
Kepala strategi pasar keuangan Westpac, Martin Whetton, menilai kelegaan pasar saat ini hanya bersifat sementara.
“Harus ada perdamaian yang benar-benar langgeng untuk mengubah keadaan.”
Pernyataan tersebut memperkuat pandangan bahwa harga minyak mentah dunia masih berpotensi bergejolak jika ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat.
Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Bagi Indonesia, turunnya harga minyak dunia bisa menjadi kabar baik karena berpotensi menekan biaya impor energi dan menjaga harga bahan bakar tetap stabil.
Namun, pemerintah dan pelaku pasar masih harus waspada. Jika gencatan senjata gagal bertahan dan Selat Hormuz kembali terganggu, harga minyak dunia bisa kembali melonjak dalam waktu singkat.
Karena itu, perkembangan hubungan AS dan Iran diperkirakan masih akan menjadi perhatian utama investor global dalam beberapa pekan ke depan.
Editor : Hany Akasah