radarsurabayabisnis.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan harga BBM subsidi akan tetap dipertahankan sampai Desember 2026. Kepastian ini disampaikan di tengah kenaikan harga minyak dunia yang dipicu memanasnya konflik Amerika Serikat–Israel dengan Iran.
Dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin, 6 April 2026, Purbaya mengatakan pemerintah telah menghitung skenario terburuk jika harga minyak dunia menyentuh 100 dolar AS per barel..
Baca Juga: Pedagang Mengeluh Harga Plastik Terus Naik, Imbas Perang di Timur Tengah Memanas
"Kami siap tidak menaikkan harga sampai akhir tahun untuk BBM bersubsidi," kata Purbaya.
Pernyataan ini langsung menjadi sorotan karena masyarakat sebelumnya khawatir harga Pertalite dan Solar subsidi akan ikut naik seiring lonjakan harga minyak global.
Harga BBM Subsidi 2026 Dipastikan Tetap, Ini Alasannya
Pemerintah menyebut anggaran subsidi energi masih aman hingga akhir tahun. Perhitungan APBN telah disusun dengan asumsi harga minyak dunia berada di kisaran 80 hingga 100 dolar AS per barel.
Baca Juga: Bukan Mobil Mewah, Ini Rahasia Alokasi Uang Orang Kaya yang Jarang Diketahui
Menurut Purbaya, masyarakat tidak perlu khawatir karena dana subsidi masih mencukupi.
"BBM bersubsidi sampai akhir tahun aman. Masyarakat tidak perlu khawatir, anggaran subsidi masih mencukupi," ujarnya.
Kepastian harga BBM subsidi tidak naik ini dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global dan kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok.
Pemerintah Siapkan Dana Rp420 Triliun untuk Jaga Harga BBM
Untuk menjaga harga BBM subsidi tetap stabil, pemerintah menyiapkan cadangan dana besar dari Sisa Anggaran Lebih (SAL).
Nilai SAL yang dimiliki pemerintah saat ini mencapai Rp420 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp200 triliun ditempatkan di perbankan dan bisa digunakan sebagai bantalan jika harga minyak dunia terus naik.
Selain itu, pemerintah juga mengandalkan tambahan penerimaan negara dari sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM), terutama dari kenaikan harga minyak dan batubara dunia.
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor ESDM diperkirakan mampu membantu menutup tambahan beban subsidi.
Setiap Harga Minyak Naik 1 Dolar, Beban Subsidi Bertambah Rp6,8 Triliun
Purbaya mengungkapkan kenaikan harga minyak dunia memiliki dampak besar terhadap APBN. Setiap kenaikan 1 dolar AS per barel akan menambah beban subsidi energi hingga Rp6,8 triliun.
Baca Juga: Mentan Optimistis Ketahanan Pangan Terjaga, Stok Beras Tembus 4,5 Juta Ton
Karena itu, pemerintah mulai menyiapkan langkah efisiensi di kementerian dan lembaga agar anggaran tetap terkendali.
"Kami kendalikan pengeluaran, tingkatkan pendapatan dari beberapa sektor, termasuk komoditas," kata Purbaya.
Pemerintah menargetkan defisit APBN tetap berada di level 2,92 persen meski tanpa menggunakan dana SAL.
Konflik AS–Israel dengan Iran Jadi Pemicu Harga Minyak Dunia Naik
Lonjakan harga minyak dunia belakangan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama setelah konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran memanas.
Kondisi tersebut membuat banyak negara mulai khawatir terhadap pasokan energi global. Jika konflik terus berlanjut, harga minyak dunia berpotensi menembus lebih dari 100 dolar AS per barel.
Meski demikian, pemerintah Indonesia memastikan gejolak tersebut tidak akan langsung berdampak pada harga BBM subsidi di dalam negeri.
Apakah Harga Pertalite dan Solar Akan Naik?
Dengan pernyataan resmi dari Menteri Keuangan, harga Pertalite dan Solar subsidi dipastikan masih tetap hingga akhir 2026.
Pemerintah optimistis kombinasi efisiensi belanja, tambahan pendapatan negara, dan cadangan dana yang besar cukup untuk menahan kenaikan harga BBM.
Bagi masyarakat, kepastian ini menjadi kabar baik karena harga BBM subsidi memiliki pengaruh langsung terhadap ongkos transportasi, harga pangan, dan kebutuhan sehari-hari lainnya.
Editor : Hany Akasah