RADAR SURABAYA BISNIS – Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran kini mulai berdampak langsung pada sektor bisnis di tanah air.
Harga produk plastik di Indonesia dilaporkan melonjak tajam dalam beberapa waktu terakhir akibat gangguan pasokan bahan baku global yang dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah tersebut.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menjelaskan bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku plastik, khususnya naphta, dari kawasan tersebut. Menurutnya, sekitar 60 persen kebutuhan naphta nasional dipenuhi melalui jalur impor dari Timur Tengah.
Baca Juga: Bukan Mobil Mewah, Ini Rahasia Alokasi Uang Orang Kaya yang Jarang Diketahui
"Kita itu bahan baku plastik salah satunya adalah naphta. Naphta itu 60 persen kita impor dari Timur Tengah. Jadi kita terdampak dari bahan baku yang harus kita impor dari Timur Tengah," ujar Budi dalam konferensi pers di Kantor KSP, Istana, Jakarta, Minggu (5/4).
Kenaikan harga ini tidak hanya dirasakan oleh Indonesia. Sejumlah produsen besar di Asia, seperti Singapura, China, Korea Selatan, Taiwan, hingga Thailand, dikabarkan mengalami kondisi force majeure. Hal ini menyebabkan rantai distribusi global tersendat dan harga di pasar internasional merangkak naik secara signifikan.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah kini tengah menjajaki sumber baru untuk mengamankan pasokan bahan baku plastik dari negara alternatif.
Baca Juga: Harga Emas Melambung Tinggi, Investasi Perak Kini Jadi Primadona Baru
"Kita sekarang mencari alternatif pengganti dari negara lain seperti Afrika, India, dan Amerika," tambah Budi. Kendati demikian, ia mengakui proses peralihan ini memerlukan waktu karena adanya penyesuaian rantai distribusi.
Di tingkat hilir, para pedagang mulai merasakan tekanan hebat. Silvia (30), seorang pedagang di Pasar Tebet Barat, mengungkapkan bahwa kenaikan harga sudah terjadi sejak bulan Ramadan lalu. Saat ini, harga rata-rata produk plastik telah naik hingga 50 persen.
"Dari pas bulan puasa setiap hari masih naik terus. Sekarang sudah naik sampai 50 persen. Plastik kiloan yang biasanya Rp 10.000, sekarang sudah Rp 15.000 hingga Rp 17.000," kata Silvia.
Kondisi ini dikhawatirkan akan memicu efek domino pada industri kuliner dan UMKM yang sangat bergantung pada kemasan plastik, di mana para penjual makanan kemungkinan besar akan ikut menaikkan harga jual produk mereka.
Editor : Hany Akasah