RADAR SURABAYA BISNIS – Eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran kini mulai memukul urat nadi ekonomi global, termasuk industri pertambangan strategis di Indonesia.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa gangguan pasokan sulfur dari kawasan Teluk mengancam kelangsungan produksi nikel nasional, yang merupakan tulang punggung ambisi hilirisasi pemerintah.
Menurut data yang dihimpun, Indonesia menyumbang lebih dari 50% pasokan nikel dunia. Namun, proses pemurnian nikel sangat bergantung pada sulfur sebagai bahan baku utama asam sulfat.
Baca Juga: KEK Mandalika Tawarkan Insentif Fiskal Demi Tarik Investasi, Berikut Detailnya
Saat ini, sekitar 75% kebutuhan sulfur industri nikel Indonesia berasal dari negara-negara di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, UEA, dan Iran.
Ketegangan di Selat Hormuz—jalur yang dilalui 20% pasokan minyak dan gas dunia—telah memicu lonjakan biaya logistik. Harga minyak mentah jenis Brent bahkan sempat menembus angka US$100 per barel pada Maret 2026.
Hal ini menyebabkan produsen nikel di Indonesia mulai mengumumkan pengurangan produksi akibat kelangkaan sulfur.
Baca Juga: Kemnaker Buka Batch 2 Pembinaan K3 Gratis: Kuota 2.100 Peserta, Cek Syarat dan Link Daftarnya!
“Pertarungan pasokan sulfur kini mempertemukan tambang nikel Indonesia dengan tambang tembaga Afrika. Keduanya harus bersaing memperebutkan sisa pasokan dengan produsen pupuk global,” tulis laporan Reuters yang dikutip dari BBC Indonesia.
Dampak krisis ini diprediksi akan meluas hingga ke sektor teknologi. Sulfur merupakan komponen vital dalam produksi semikonduktor dan chip.
Gangguan pada rantai pasok ini datang di saat permintaan chip dunia sedang melonjak tajam akibat pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang masif.
Baca Juga: Liburan ke Luar Negeri Tanpa Tukar Uang? Ini Daftar 5 Negara yang Kini Bisa Pakai QRIS
Jika konflik terus berlanjut, konsumen global harus bersiap menghadapi kenaikan harga perangkat elektronik mulai dari ponsel pintar hingga kendaraan listrik dalam kurun waktu satu hingga tiga bulan ke depan.
Editor : Hany Akasah