Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Harga CPO Melonjak, Mentan Amran Sebut Konflik Geopolitik Berdampak Bagi Petani Sawit

Hany Akasah • Minggu, 5 April 2026 | 19:24 WIB
Ketegangan Geopolitik Global Jadi Angin Segar Bagi Petani Sawit Indonesia.
Ketegangan Geopolitik Global Jadi Angin Segar Bagi Petani Sawit Indonesia.

RADAR SURABAYA BISNIS – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa situasi geopolitik global yang tengah memanas saat ini justru memberikan dampak ekonomi positif bagi sektor perkebunan Indonesia. 

Kenaikan harga komoditas global, terutama Crude Palm Oil (CPO), menjadi katalis utama meningkatnya pendapatan petani di dalam negeri.

Dalam kunjungannya ke Gudang Bulog Panaikang, Makassar, Minggu (5/4), Amran menyebut fenomena ini sebagai "berkah" bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.

Baca Juga: Iuran BPJS Kesehatan April 2026 Wajib Dibayar Sebelum 10 April, Ini Akibatnya Jika Telat Bayar

"Konflik geopolitik yang memanas itu berkah buat Indonesia untuk pangan. Petani pesta. Kenapa? Harga CPO naik, harga kakao bagus, harga kelapa naik. Itu yang dirasakan di lapangan," ujar Amran.

Amran memberikan contoh konkret mengenai kenaikan harga kelapa di Maluku Utara yang melonjak drastis dari Rp600 menjadi Rp6.000 per kilogram. Lonjakan harga ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat tani.

Berdasarkan data dari Badan Pangan Nasional (Bapanas), indikator kesejahteraan ini terlihat dari meningkatnya aktivitas sosial keagamaan. 

Baca Juga: Rekor Tertinggi! Stok Beras Bulog Tembus 4,4 Juta Ton, Produksi Beras Ngawi Jadi Sorotan

Amran mencatat adanya kenaikan signifikan jumlah petani yang mampu menunaikan ibadah Haji dan Umrah, yang menunjukkan penguatan kondisi finansial di tingkat akar rumput.

Selain keuntungan harga komoditas, tekanan geopolitik juga memacu pemerintah untuk mempercepat kebijakan hilirisasi energi. 

Amran menegaskan bahwa Indonesia kini fokus mengembangkan bahan bakar berbasis etanol dan biodiesel guna mengurangi ketergantungan pada impor energi.

"Berkah kedua, hilirisasi dipercepat, etanol dipercepat. Kalau ada tekanan, ada hikmah di balik itu," tambahnya.

Baca Juga: Tiket Diskon Kapal Pelni 30 Persen Ludes! 467 Ribu Pemudik Nikmati Program Lebaran 2026

Sebagai langkah nyata, Indonesia telah mulai memproduksi dan mengekspor kendaraan berbahan bakar etanol ke Brasil. Bahan baku etanol tersebut dipasok dari komoditas lokal seperti ubi dan jagung, yang sekaligus memperkuat ekosistem industri hulu ke hilir di sektor pertanian.

Dengan kondisi ini, pemerintah optimis bahwa sektor perkebunan tetap akan menjadi tulang punggung ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global, sekaligus mendorong petani untuk lebih aktif meningkatkan produktivitas lahan mereka.

Editor : Hany Akasah
#amran sulaiman #sawit #cpo #geopolitik #mentan