RADAR SURABAYA BISNIS – Pemerintah Indonesia secara resmi memulai pengiriman perdana ekspor bumbu dan makanan siap saji (Ready to Eat) ke Arab Saudi guna memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji tahun 2026.
Langkah strategis ini tidak hanya bertujuan menjamin cita rasa nusantara di Tanah Suci, tetapi juga menjadi upaya nyata memperkuat ekosistem ekonomi nasional melalui pemberdayaan UMKM.
Direktorat Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (Ditjen PE2HU) mencatat, pada tahap awal sebanyak 100 ton logistik global telah diberangkatkan dari Gudang Lini Garuda di Bandara Soekarno-Hatta sejak Kamis (2/4/2026). Pengiriman ditargetkan berlangsung secara bertahap hingga Senin, 6 April 2026.
Baca Juga: Harga Plastik Melejit Imbas Konflik Timur Tengah, RI Mulai Bidik Pemasok dari Amerika dan India
Direktur Jenderal PE2HU, Jaenal Effendi, mengungkapkan bahwa total kebutuhan dari vendor mencapai 230 ton. "Program ini menjadi test run penting untuk memastikan produk Indonesia mampu memenuhi standar ketat di Arab Saudi, sekaligus memperluas pasar produk lokal di tingkat global," ujarnya dalam keterangan resmi.
Dalam operasionalnya, ekspor ini melibatkan kolaborasi lintas sektor. PT Pos Indonesia berperan dalam pengelolaan rantai pasok dari hulu ke hilir—mulai dari petani rempah hingga produk siap konsumsi—sementara Garuda Indonesia mendukung distribusi jalur udara.
Produk yang dikirimkan, mulai dari bumbu instan hingga makanan siap saji, telah melewati proses standarisasi kualitas, ketahanan produk, serta sertifikasi halal internasional. Hal ini memastikan keamanan pangan bagi jemaah haji sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Baca Juga: Indonesia Catat Surplus Perdagangan 70 Bulan Berturut, Nonmigas Jadi Penopang Utama
Selain bumbu, pemerintah juga memproyeksikan kebutuhan beras sebanyak 3.913 ton untuk melayani sekitar 205.420 jemaah dan petugas haji tahun ini.
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, menyebutkan alokasi biaya konsumsi harian per jemaah mencapai 36 SAR (sekitar Rp163.000) untuk tiga kali makan.
"Kementerian Haji dan Umrah berkomitmen mewujudkan kemandirian pangan dalam penyelenggaraan ibadah haji. Keberhasilan program ini diharapkan menjadi model pengembangan logistik haji yang lebih efisien dan terintegrasi di masa depan," tambah Dahnil.
Baca Juga: Pariwisata Indonesia Kian Bergeliat, Kunjungan Wisman Tembus 1,16 Juta pada Februari 2026
Dengan strategi ini, pemerintah berharap ketergantungan pada produk impor untuk kebutuhan haji dapat ditekan, sementara nilai tambah ekonomi dapat dirasakan langsung oleh para pelaku usaha di dalam negeri.
Editor : Hany Akasah