Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Indonesia Catat Surplus Perdagangan 70 Bulan Berturut, Nonmigas Jadi Penopang Utama

Hany Akasah • Sabtu, 4 April 2026 | 12:05 WIB
ILUSTRASI: Aktivitas bongkar muat kapal kargo mencerminkan kinerja perdagangan internasional Indonesia yang masih mencatat surplus pada awal 2026
ILUSTRASI: Aktivitas bongkar muat kapal kargo mencerminkan kinerja perdagangan internasional Indonesia yang masih mencatat surplus pada awal 2026

RADAR SURABAYA BISNIS - Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung, kinerja perdagangan Indonesia pada awal tahun 2026 menunjukkan ketahanan yang cukup kuat.

Aktivitas ekspor dan impor tetap bergerak dinamis, dengan neraca perdagangan yang masih mencatatkan hasil positif.

Berdasarkan rilis terbaru Badan Pusat Statistik, neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari hingga Februari 2026 mencatat surplus sebesar US$2,23 miliar.

Capaian ini sekaligus memperpanjang tren surplus yang telah berlangsung selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Baca Juga: Pariwisata Indonesia Kian Bergeliat, Kunjungan Wisman Tembus 1,16 Juta pada Februari 2026

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa surplus tersebut terutama didorong oleh kinerja positif sektor nonmigas, sementara sektor migas masih memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan.

“Hingga bulan Februari 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$2,23 miliar. Surplus sepanjang periode Januari-Februari 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas US$5,42 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$3,19 miliar,” ungkap Ateng pada konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/4).

Dari sisi ekspor, kinerja Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang relatif stabil.

Nilai ekspor kumulatif pada Januari–Februari 2026 tercatat meningkat sebesar 2,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Tak Berubah dari Hari Sebelumnya, Harga Emas Antam Masih Tertahan

Peningkatan ini terutama berasal dari sektor industri pengolahan yang mencatat nilai ekspor sebesar US$37,06 miliar atau tumbuh 6,69 persen secara tahunan.

Jika dilihat dari tujuan ekspor, tiga negara masih menjadi mitra utama Indonesia, yakni Tiongkok, Amerika Serikat, dan India.

Ketiga negara tersebut menyumbang sekitar 43,85 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada periode Januari–Februari 2026.

Secara rinci, Tiongkok menjadi tujuan ekspor terbesar dengan nilai mencapai US$10,46 miliar atau sekitar 24,69 persen dari total ekspor nonmigas.

Disusul oleh Amerika Serikat sebesar US$5,00 miliar (11,81 persen), serta India sebesar US$3,11 miliar (7,35 persen).

Komoditas ekspor ke Tiongkok didominasi oleh produk besi dan baja, nikel beserta turunannya, serta bahan bakar mineral.

Baca Juga: India dan China Borong Daun Sirih RI, Ternyata Ini Kegunaan Rahasianya!

Sementara itu, ekspor ke Amerika Serikat banyak didorong oleh produk mesin dan peralatan listrik, alas kaki, serta pakaian dan aksesoris berbahan rajutan.

Di sisi lain, nilai impor Indonesia juga mengalami peningkatan cukup signifikan.

Hingga Februari 2026, total impor tercatat mencapai US$42,09 miliar, atau naik 14,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kontribusi terbesar impor masih berasal dari sektor nonmigas yang mencapai US$36,93 miliar, meningkat 17,49 persen.

Baca Juga: BGN Perketat Pengawasan, Insentif Rp 6 Juta Satuan Pelayanan MBG Terancam Dicabut Jika Langgar SOP

Sementara itu, impor migas justru mengalami penurunan sebesar 3,50 persen menjadi US$5,16 miliar.

Berdasarkan penggunaannya, kenaikan impor terjadi di berbagai kategori.

Impor barang modal tercatat sebesar US$9,10 miliar atau meningkat tajam 34,44 persen.

Sementara itu, impor bahan baku dan penolong mencapai US$29,40 miliar atau naik 9,27 persen.

Adapun impor barang konsumsi juga mengalami peningkatan, meskipun tidak sebesar dua kategori lainnya.

Dari sisi negara asal, Tiongkok menjadi pemasok utama impor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai US$15,68 miliar atau sekitar 42,46 persen.

Baca Juga: Jaga Ketahanan Pangan, Menteri ATR Batasi Ketat Perubahan Lahan Pertanian

Posisi berikutnya ditempati oleh Australia sebesar US$2,07 miliar (5,60 persen), serta Singapura sebesar US$2,00 miliar (5,41 persen).

Sementara itu, surplus perdagangan nonmigas Indonesia sebagian besar ditopang oleh sejumlah komoditas unggulan.

Lima komoditas utama penyumbang surplus tersebut meliputi lemak dan minyak hewan atau nabati, bahan bakar mineral, besi dan baja, nikel beserta turunannya, serta produk alas kaki.

Secara keseluruhan, capaian surplus neraca perdagangan ini menunjukkan bahwa sektor eksternal Indonesia masih cukup tangguh di tengah tekanan global.

Meski impor mengalami peningkatan yang cukup tinggi, kinerja ekspor yang tetap solid mampu menjaga keseimbangan neraca perdagangan.

Ke depan, stabilitas neraca perdagangan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global, harga komoditas, serta kinerja sektor industri dalam negeri. (iza/han)

Editor : Hany Akasah
#perdagangan #surplus #ekspor #Nonmigas #impor