radarsurabayabisnis.id - Inovasi mahasiswa UBAYA tas unik dari serabut kelapa berhasil mencuri perhatian karena tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga bisa terurai alami dan ditanam setelah tidak digunakan.
Empat mahasiswa Program Desain Fashion dan Produk Lifestyle Fakultas Industri Kreatif (FIK) Universitas Surabaya (Ubaya) menciptakan tas berbahan serabut kelapa sebagai alternatif bahan fesyen berkelanjutan.
Baca Juga: Isu Kenaikan Harga BBM 1 April Berhembus, Pertamina Pastikan Belum Ada Pengumuman Resmi
Mereka adalah Emily Jocelyn, Johan Febriawan, Tutik Masruroh, dan Jibrail Fajar. Inovasi ini dibuat sebagai tugas kelompok dalam mata kuliah Sustainability Concept yang dibimbing Dr. Christabel Annora Paramita Parung, M.Sc.
Inovasi Mahasiswa UBAYA: Tas Unik dari Serabut Kelapa untuk Kurangi Limbah Fashion
Ide pembuatan tas ini berawal dari keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan akibat industri mode yang dikenal menghasilkan limbah besar dan membutuhkan konsumsi energi tinggi.
Karena itu, tim mahasiswa UBAYA mencoba mencari bahan pengganti kulit yang lebih ramah lingkungan. Setelah melalui berbagai pertimbangan, mereka memilih serabut kelapa sebagai bahan utama.
Baca Juga: Warga Surabaya Wajib Tahu, Bayar Parkir Tepi Jalan Segera Pakai Voucher, Ini Alasannya
“Kami akhirnya sepakat menggunakan serabut kelapa. Selain Indonesia merupakan salah satu penghasil serabut kelapa terbesar di dunia, bahan ini juga murah, kuat, serta memiliki motif dan tekstur yang unik,” ujar Johan Febriawan, Selasa (31/3).
Menurut Johan, serabut kelapa dipilih karena mudah didapat, memiliki tekstur khas, dan berpotensi menjadi bahan fesyen alternatif yang berkelanjutan.
Cara Mahasiswa UBAYA Mengolah Serabut Kelapa Jadi Tas
Untuk mengubah serabut kelapa menjadi bahan tas, tim mahasiswa UBAYA melakukan sejumlah eksperimen.
Serabut kelapa diolah menjadi lembaran dengan campuran tepung tapioka dan air yang dimasak perlahan sebagai perekat. Mereka juga menambahkan gliserin agar bahan menjadi lebih lentur dan mudah dibentuk.
Perekat tersebut kemudian dioleskan ke permukaan serabut kelapa yang sebelumnya disemprot air. Setelah mengering, perekat kembali diaplikasikan pada sisi lainnya hingga terbentuk lembaran.
Lembaran serabut kelapa itu lalu dijahit secara manual hingga menjadi tas unik yang siap digunakan.
Tas Serabut Kelapa Ini Bisa Ditanam dan Tumbuh Jadi Bunga
Keunikan inovasi mahasiswa UBAYA tas unik dari serabut kelapa tidak hanya terletak pada bahannya.
Tas tersebut juga dilengkapi gantungan berisi lima jenis bibit bunga, yaitu bunga matahari, celosia, anyelir, forget me not, dan baby’s breath.
Baca Juga: Jangan Dibuang! Tas Spunbond Bekas Lebaran Ternyata Bisa Jadi Sumber Cuan Baru
Saat tas sudah rusak atau tidak lagi dipakai, produk tersebut dapat ditanam di tanah karena seluruh bahan dan perekatnya bisa terurai secara alami.
“Ketika tas ditanam, bahan-bahannya bisa terurai secara natural. Sementara bibit bunga yang ada di gantungannya bisa tumbuh,” jelas Johan.
Tantangan Membuat Tas dari Serabut Kelapa
Meski terlihat sederhana, proses pembuatan tas dari serabut kelapa tidak mudah. Mahasiswa UBAYA mengaku menghadapi kendala pada proses pengeringan yang masih bergantung pada sinar matahari.
“Waktu kami mengerjakan tas ini kebetulan sedang musim hujan. Jadi proses pengeringannya jauh lebih lama. Selain itu, menjahit lembaran serabut kelapa juga cukup sulit karena masih menggunakan jahit tangan,” paparnya.
Selain proses pengeringan, mereka juga mengalami kesulitan saat menjahit lembaran serabut kelapa karena seluruh proses masih dilakukan secara manual.
Harapan Mahasiswa UBAYA untuk Industri Fesyen Indonesia
Meski belum berencana memproduksi tas tersebut secara massal, para mahasiswa berharap inovasi ini dapat menginspirasi pelaku fesyen di Indonesia.
Mereka ingin lebih banyak orang berani memanfaatkan bahan alami sebagai alternatif fesyen yang ramah lingkungan.
“Kita sebenarnya memiliki banyak sumber daya alam yang bisa dijadikan alternatif bahan fesyen yang berkelanjutan. Tinggal kemauan untuk berinisiatif dan berani bereksperimen,” pungkas Johan.
Editor : Hany Akasah