Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Mengenal Bisnis Sirkular, Mengolah Sisa Hidangan Lebaran Jadi Manfaat Baru

Hany Akasah • Senin, 23 Maret 2026 | 23:20 WIB
SIRKULAR: Foto tumpukan sampah organik berupa sisa sayuran dan buah-buahan.
SIRKULAR: Foto tumpukan sampah organik berupa sisa sayuran dan buah-buahan.

RADAR SURABAYA BISNIS – Momen Hari Raya Idulfitri di Indonesia selalu identik dengan limpahan hidangan. Namun, di balik tradisi tersebut, tersimpan masalah klasik yang belum terpecahkan: lonjakan sampah makanan (food waste). 

Pakar melihat fenomena ini bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan kegagalan sistem manajemen sampah yang sebenarnya menyimpan potensi ekonomi besar jika dikelola dengan pendekatan bisnis sirkular.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Meti Ekayani, mengungkapkan bahwa lonjakan sampah ini berakar dari budaya konsumsi masyarakat. Niat memuliakan tamu dengan hidangan berlebih sering kali berakhir pada pemborosan.

Baca Juga: Indonesia-Vietnam Masuk Daftar Negara Terindah Dunia, Magnet Baru Investasi Pariwisata Asia Tenggara

“Ada dua hal penyebabnya, budaya konsumsi masyarakat dan sistem pengelolaan sampah yang belum efektif,” ujar Meti sebagaimana dikutip dari riset National Geographic Indonesia.

Dari perspektif bisnis logistik dan lingkungan, sistem pengelolaan sampah di Indonesia dinilai masih lemah karena didominasi skema "kumpul-angkut-buang". 

Dalam model ini, tidak ada insentif ekonomi bagi masyarakat atau pelaku usaha untuk mengurangi sampah dari sumbernya. Iuran sampah yang dipatok rata tanpa melihat volume produksi membuat masyarakat kurang tergerak melakukan pemilahan.

Baca Juga: Akses Diperluas, Kemnaker Hapus Batasan Tahun Kelulusan Pelatihan Vokasi 2026

Padahal, di negara maju, skema pembayaran iuran berdasarkan volume sampah telah berhasil mendorong efisiensi konsumsi rumah tangga. 

Di Indonesia, sampah makanan yang tercampur dengan material anorganik seperti plastik atau kertas justru merusak nilai ekonomi material tersebut, sehingga tidak lagi bisa didaur ulang.

Meti mendorong perubahan perilaku melalui perencanaan konsumsi yang lebih matang. Namun, bagi dunia usaha, residu yang tidak terelakkan merupakan bahan baku bernilai. 

Baca Juga: Universitas Pertahanan Resmi Buka Beasiswa 2026 Usai Lebaran, Ini Jadwal dan Syaratnya

 

Limbah makanan dapat diolah menjadi produk komersial seperti:

- Pupuk Kompos High-End: Mengolah sampah organik rumah tangga menjadi nutrisi tanaman.

- Budi Daya Maggot (Black Soldier Fly): Mengonversi sampah makanan menjadi pakan ternak berprotein tinggi yang memiliki permintaan pasar stabil.

- Energi Terbarukan: Pemanfaatan limbah organik untuk biogas di skala komunitas.

Baca Juga: Viral Unboxing Hampers Open House Istana Negara, Warganet Kaget Dapat Uang Tunai Rp200 Ribu

“Kalau food waste tidak bisa sepenuhnya dicegah, setidaknya bisa diolah. Dengan begitu, kita tidak hanya mengurangi sampah tetapi juga menciptakan manfaat baru (nilai ekonomi) dari limbah makanan,” tutup Meti.

Editor : Hany Akasah
#Komponen #ipb #sampah #limbah