Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Ramah Lingkungan & Hemat Energi, Aluminium Siap Geser Dominasi Plastik di Industri Minuman

Hany Akasah • Minggu, 22 Maret 2026 | 15:21 WIB
ILUSTRASI: Botol plastik untuk wadah air minum
ILUSTRASI: Botol plastik untuk wadah air minum.

RADAR SURABAYA BISNIS – Pergeseran perilaku konsumen menuju gaya hidup berkelanjutan tengah menciptakan peta bisnis baru di sektor pengemasan global. 

Laporan terbaru dari Korea Selatan menunjukkan adanya lonjakan signifikan pada minat konsumen terhadap kemasan aluminium sebagai alternatif pengganti botol plastik sekali pakai.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Korea Federation for Environmental Movements (KFEM) terhadap 1.011 responden dewasa, preferensi terhadap penggunaan kaleng aluminium meningkat menjadi 34,7 persen pada tahun 2026. 

Baca Juga: Rekrutmen Koperasi Merah Putih 2026 Dibuka Juni, Ini Syarat Lengkapnya

Angka ini naik drastis dibandingkan periode sebelumnya yang hanya menyentuh 23,9 persen.

Meskipun plastik masih menjadi pilihan utama bagi 43,4 persen responden, tren menunjukkan penurunan minat yang konsisten seiring dengan meningkatnya kesadaran akan dampak lingkungan. 

Aluminium dinilai lebih kompetitif secara ekonomi dan ekologis karena memiliki tingkat daur ulang "siklus tertutup" (closed-loop) tertinggi mencapai 75 persen pada tahun 2023.

Baca Juga: Harga Emas Galeri24 dan UBS Stabil di Level Tinggi, Ini Rincian Terbarunya

Peluang Ekonomi Sirkular

Data industri mengungkapkan bahwa memproduksi kaleng aluminium dari bahan daur ulang mampu menghemat energi hingga 95 persen dibandingkan menggunakan bahan baku baru. 

Efisiensi ini menjadi daya tarik bagi produsen untuk menekan biaya produksi sekaligus memenuhi standar regulasi lingkungan yang semakin ketat.

Sekretaris Jenderal KFEM, Lee Dong-i, menyatakan bahwa penyampaian informasi yang akurat mengenai manfaat lingkungan dari aluminium sangat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. "Dukungan masyarakat terhadap sistem daur ulang tertutup sangat luas," ujarnya.

Baca Juga: Pemerintah Bakal Terapkan WFH Satu Hari Sepekan Usai Lebaran 2026 untuk Tekan Konsumsi BBM

Hambatan Infrastruktur

Meski permintaan pasar meningkat, pelaku bisnis dan pemerintah masih menghadapi tantangan struktural. Sebanyak 22,3 persen responden mengeluhkan kurangnya ruang untuk memilah sampah, sementara 14 persen lainnya masih bingung dengan metode pemisahan yang benar.

Menanggapi hal ini, hampir 80 persen responden mendukung pengadaan mesin pengumpul kaleng otomatis di supermarket dan pusat komunitas. 

Langkah ini diprediksi akan memperkuat ekosistem ekonomi sirkular melalui pemberian insentif langsung seperti poin hadiah atau uang tunai kepada konsumen.

Editor : Hany Akasah
#kemasan #minuman #korsel #plastik #global