Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Ekonomi Indonesia Jelang Idulfitri: Daya Beli Menguat, Tapi Awas Inflasi Mengintai

Hany Akasah • Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:12 WIB
ILUSTRASI: Masyarakat Indonesia saat merayakan lebaran.
ILUSTRASI: Masyarakat Indonesia saat merayakan lebaran.
RADAR SURABAYA BISNIS – Kondisi ekonomi Indonesia menjelang Hari Raya Idulfitri 2026 menunjukkan potret yang beragam.

Di tengah euforia peningkatan konsumsi domestik dan optimisme konsumen, terdapat tantangan serius berupa lonjakan inflasi dan pelemahan nilai tukar Rupiah yang mendekati level psikologis baru.

Baca Juga: Waspada ‘Kalap Makan’ Saat Lebaran, Ini Cara Aman Nikmati Opor dan Rendang Tetap Aman

Daya Beli dan Optimisme Konsumen

Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Februari 2026 berada di level 125,2. Angka ini menunjukkan masyarakat masih berada dalam zona optimis. 

Penguatan ini juga tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang tumbuh 6,9% secara tahunan (YoY), didorong oleh peningkatan belanja suku cadang, perlengkapan rumah tangga, hingga kebutuhan sandang jelang Lebaran.

Pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) dan berbagai insentif pemerintah dinilai menjadi mesin utama penggerak konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2026.

Baca Juga: Harga Emas Antam saat Lebaran, Hari Sabtu, 21 Maret 2026 Stagnan Usai Anjlok Tajam

Tekanan Inflasi dan Rupiah

Namun, di balik geliat belanja tersebut, masyarakat perlu mewaspadai kenaikan harga. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada Februari 2026 mencapai 4,76% (YoY). 

Meski inflasi inti relatif terjaga di level 2,63%, kelompok makanan (volatile food) mengalami tekanan akibat gangguan pasokan dan faktor cuaca.

Tantangan lain datang dari sektor keuangan. Nilai tukar Rupiah terpantau bergerak lemah di level Rp16.975 per Dolar AS pada perdagangan Selasa (17/3/2026). Ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah memicu arus modal keluar (net outflows) sebesar US$1,1 miliar pada Maret 2026.

Baca Juga: Pecinta Pedas Merapat! Sambal Bajak Khas Jawa Jadi Sambal yang Paling Dicari di Hari Lebaran.

Respon Kebijakan Bank Indonesia

Menanggapi situasi ini, Bank Indonesia memilih sikap waspada dengan mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Langkah pre-emptive ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5±1% pada sisa tahun 2026.

Meski dibayangi tekanan eksternal, BI menegaskan bahwa ketahanan ekonomi nasional masih terjaga, didukung oleh posisi cadangan devisa yang kuat sebesar US$151,9 miliar per akhir Februari 2026.

Baca Juga: Medsos Anak Dibatasi, KPAI Buka Peluang bagi Industri Kreatif dan Edutech

Editor : Hany Akasah
#ritel #ekonomi #lebaran #inflasi #idulfitri