Potensi Ekonomi Urban Farming, Transformasi Kelompok Wanita Tani Jadi Model Bisnis Ketahanan Pangan
Hany Akasah• Kamis, 19 Maret 2026 | 10:17 WIB
Aktivitas anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) saat mengelola kebun urban farming dan instalasi budidaya pangan mandiri .RADAR SURABAYA BISNIS – Inovasi pertanian perkotaan atau urban farming kini bukan lagi sekadar hobi lingkungan, melainkan instrumen strategis dalam memperkuat ekonomi komunitas dan ketahanan pangan nasional. Riset terbaru kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Sriwijaya (UNSRI) mengungkapkan bahwa pemberdayaan Kelompok Wanita Tani (KWT) memiliki dampak ekonomi dan sosial yang signifikan.Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN, Ade Latifa, menjelaskan bahwa KWT kini bertransformasi menjadi 'laboratorium sosial'.
Fokus utama inovasi ini terletak pada penguatan partisipasi dan solidaritas sosial yang mampu menghubungkan hasil panen secara langsung dengan kebutuhan gizi masyarakat, sekaligus menciptakan efisiensi rantai pasok pangan di tingkat lokal.Dari sisi teknologi terapan, penerapan metode Budikdamber (Budidaya Ikan dalam Ember) menjadi sorotan karena efisiensinya di lahan marginal perkotaan seperti Bandung dan Denpasar. Peneliti Pusat Riset Wilayah BRIN, Lamijo, menyebutkan bahwa teknologi inklusif ini memungkinkan rumah tangga menghasilkan protein hewani dan mikronutrien secara mandiri dengan biaya rendah.Baca Juga: Harga Emas Antam Kembali Turun Tajam pada 19 Maret 2026, Buyback Ikut TerkoreksiSecara bisnis, model ini menawarkan peluang investasi pada teknologi pangan tepat guna dan pengembangan usaha mikro berbasis komunitas. Dengan dukungan skema pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM), temuan ini menjadi basis kuat bagi kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) untuk mengintegrasikan kebijakan pangan kota dengan aksi komunitas yang berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.