RADAR SURABAYA BISNIS — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menangkap peluang besar dalam industri transisi energi melalui inovasi daur ulang baterai litium-ion bekas.
Riset terbaru ini berhasil mengoptimalkan perolehan logam kritis berupa nikel dan kobalt, yang menjadi komponen vital dalam rantai pasok kendaraan listrik (EV) global.
Perekayasa Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Material BRIN, Nur Vita Permatasari, mengungkapkan bahwa konsep urban mining atau penambangan perkotaan menjadi solusi strategis di tengah melonjaknya permintaan baterai.
Baca Juga: Pemerintah Ambil Alih Kelola Lahan Sawah di 12 Provinsi, Dorong Kepastian Investasi Pangan
Berbeda dengan penambangan primer yang memerlukan biaya energi besar, daur ulang limbah elektronik menawarkan konsentrasi logam yang lebih tinggi.
"Daur ulang baterai bekas tidak hanya menyediakan sumber logam kritis, tetapi juga menghasilkan jejak lingkungan dan kebutuhan energi yang lebih rendah dibandingkan penambangan," ujar Vita dalam keterangannya baru-baru ini.
Dalam riset tersebut, BRIN menggunakan metode pelindian (leaching) yang dioptimalkan dengan response surface method (RSM).
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis di Awal Perdagangan Selasa, Pasar Menanti Hasil RDG Bank Indonesia
Hasilnya sangat signifikan bagi efisiensi industri, perolehan nikel mencapai 99,9 persen dan kobalt sebesar 97,8 persen. Logam-logam ini diambil dari blackmass, yakni serbuk aktif hasil pemrosesan katoda baterai bekas.
Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN, Ratno Nuryadi, menegaskan bahwa keberhasilan riset ini merupakan langkah nyata untuk memperkuat program pengembangan logam kritis nasional.
Secara bisnis, inovasi ini berpotensi meningkatkan efisiensi produksi dan mendukung posisi Indonesia sebagai pusat pengolahan logam strategis yang mandiri dan berkelanjutan.
Baca Juga: Harga Emas Antam Turun Lagi pada Perdagangan Hari Ini, Tren Pelemahan Masih Berlanjut
Langkah ini diharapkan dapat segera diintegrasikan ke skala industri, memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk terlibat dalam ekosistem ekonomi sirkular yang lebih hijau dan menguntungkan.
Editor : Hany Akasah