RADAR SURABAYA BISNIS - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menegaskan percepatan peremajaan sawit rakyat menjadi kunci utama untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit nasional secara berkelanjutan.
Namun, tantangan tata kelola dan legalitas lahan masih menjadi hambatan besar dalam pelaksanaannya.
Hal tersebut disampaikan Direktur Perencanaan, Penghimpunan, dan Pengembangan Dana BPDP Lupi Hartono dalam diskusi Reshaping Indonesia’s Palm Oil Foundations in an Era of Climate Risk and New Governance Standards.
“Peremajaan sawit rakyat menjadi prioritas karena produktivitas kebun petani sudah menurun,” ujar Lupi, dikutip Senin (9/3).
Program ini dirancang untuk mendukung peningkatan produksi nasional secara berkelanjutan.
BPDP mencatat sekitar 4,8 juta hektare lahan sawit rakyat membutuhkan peremajaan.
Hingga saat ini, realisasi peremajaan baru mencapai sekitar 400 ribu hektare.
Dengan skema pembiayaan sebesar Rp 60 juta per hektare dan batas maksimal empat hektare per petani. “Dari target peremajaan 120 ribu hektare per tahun, capaian aktual masih berkisar 40 ribu hektare per tahun,” lanjutnya.
Menurut Lupi, keterbatasan tersebut tidak disebabkan oleh kurangnya dukungan pembiayaan, melainkan oleh kendala struktural yang lebih mendasar.
“Masalah utama ada pada legalitas lahan dan perizinan, termasuk terkait kawasan hutan,” ujar Lupi.
Tanpa pembenahan aspek ini, percepatan peremajaan akan sulit dicapai.
Selain peremajaan, BPDP juga menyalurkan bantuan sarana dan prasarana untuk mendukung intensifikasi kebun rakyat, termasuk penyediaan bibit unggul, dukungan dari tahap penanaman hingga pascapanen, serta fasilitasi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) bagi perkebunan rakyat.
BPDP juga membiayai riset dan pengembangan dari hulu hingga hilir untuk memperkuat produktivitas dan daya saing industri sawit.
Sementara itu, pakar agribisnis dan pertanian Tungkot Sipayung menilai program peremajaan sawit rakyat merupakan fondasi penting bagi agenda peningkatan produktivitas nasional.
Namun, ia mengingatkan bahwa efektivitas program tersebut sangat bergantung pada perbaikan tata kelola kebijakan.
“Produktivitas kebun kita saat ini masih sekitar tiga ton per hektar. Target realistisnya adalah lima ton per hektar,” ujar Tungkot.
Ia menambahkan inkonsistensi kebijakan lintas sektor selama ini telah mengunci berbagai inisiatif peningkatan produktivitas, termasuk peremajaan sawit rakyat.
Kondisi tersebut memperlambat pencapaian target produksi nasional dalam jangka panjang.
Dari perspektif perencanaan pembangunan, Tenaga Ahli Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Frans BM Dabukke menegaskan peningkatan produktivitas sawit rakyat telah menjadi bagian dari agenda utama dalam dokumen perencanaan nasional.
“Target peningkatan produksi dan produktivitas selalu ditekankan dalam RPJPN dan RPJMN. Tantangannya bukan pada teknologi atau kualitas benih,” kata Frans.
Tantangannya ada pada adopsi di tingkat pekebun serta sinkronisasi kebijakan lintas kementerian dan lembaga.
Frans menilai bahwa percepatan peremajaan sawit rakyat perlu ditempatkan dalam kerangka penguatan ekosistem industrialisasi yang mencakup aspek kelembagaan, regulasi, dan koordinasi kebijakan.
Sementara itu, Research Director Prasasti Gundy Cahyadi menilai bahwa persoalan produktivitas sawit rakyat tidak dapat dilepaskan dari desain tata kelola kebijakan yang masih terfragmentasi.
“Petani sawit berada di hilir dari berbagai kebijakan yang saling tidak terhubung,” ujar Gundy. (uta/opi)
Editor : Nofilawati Anisa