Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Konflik Timur Tengah Memanas, Jalur Perdagangan Emas Global Mulai Terganggu

Hany Akasah • Senin, 9 Maret 2026 | 10:56 WIB

ILUSTRASI: Tiga emas batang yang saling bertumpuk
ILUSTRASI: Tiga emas batang yang saling bertumpuk

RADAR SURABAYA BISNIS– Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran mulai berdampak serius pada sektor perdagangan komoditas global. 

Salah satu titik paling terdampak adalah Dubai, Uni Emirat Arab, yang selama ini menjadi hub utama perdagangan emas dunia.

Gangguan penerbangan menuju Dubai memaksa sejumlah negara produsen, termasuk Ghana, untuk mempertimbangkan pengalihan rute pengiriman emas mereka. 

Pemerintah Ghana melalui lembaga GoldBod tengah menyiapkan rencana cadangan untuk mengalihkan pengiriman emas artisanal ke pusat pemurnian di Swiss, Hong Kong, India, hingga Shanghai.

Analis dari StoneX, Rhona O’Connell, mengungkapkan bahwa emas biasanya dikirim melalui jalur udara karena nilainya yang tinggi dibandingkan beratnya. 

Namun, saat ini Bandara Dubai dilaporkan hanya beroperasi sekitar 25% dari kapasitas normal akibat situasi keamanan yang tidak menentu.

"Jika zona larangan terbang diterapkan secara luas, perdagangan akan berhenti dan pasokan devisa bisa terganggu. Hal ini berpotensi menekan nilai mata uang domestik negara eksportir," ujar O'Connell.

Meski rute alternatif sedang disiapkan, pelaku industri memperingatkan adanya potensi kenaikan biaya logistik. Kendati demikian, GoldBod menilai dampak terhadap permintaan pasar tidak akan terlalu signifikan karena minat terhadap emas tetap tinggi. 

Bahkan, banyak pembeli yang bersedia membayar harga premium demi mendapatkan pasokan logam mulia ini di tengah ketidakpastian global.

Di sisi lain, Chief Executive London Bullion Market Association (LBMA), Ruth Crowell, melihat situasi ini sebagai momentum bagi pasar untuk meninjau kembali rantai pasok mereka. 

Gangguan di jalur utama diharapkan dapat mendorong transparansi dan memastikan sumber emas berasal dari jalur yang lebih bertanggung jawab, sekaligus menekan aliran emas ilegal di kawasan Afrika.

Berdasarkan data tahun lalu, produksi emas artisanal Ghana melonjak 63% menjadi 96 metrik ton dengan nilai mencapai US$ 15,8 miliar. Dengan posisi Ghana sebagai produsen emas terbesar di Afrika, kelancaran distribusi menjadi kunci stabilitas ekonomi negara tersebut.

Editor : Hany Akasah
#ghana #konflik timur tengah #asia #swiss #logistik #emas #global