RADAR SURABAYA BISNIS - Sektor industri pengolahan nasional terus memperkokoh perannya sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia.
Kinerja sektor ini bahkan mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan industri pengolahan pada tahun 2025 tercatat sebesar 5,30 persen.
Capaian itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,11 persen.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, capaian ini merupakan momentum bersejarah, karena pertumbuhan industri kembali berada di atas pertumbuhan ekonomi setelah 14 tahun.
“Tepatnya sejak terakhir kali pada tahun 2011,” kata Agus dalam keterangannya, Minggu (8/3).
Ia menjelaskan, kinerja positif ini sejalan dengan kontribusi industri pengolahan terhadap PDB nasional yang mencapai 19,07 persen pada tahun 2025.
Di tingkat global, posisi manufaktur Indonesia semakin diperhitungkan dengan nilai Manufacturing Value Added (MVA) mencapai USD 265,07 miliar, menempatkan Indonesia di peringkat ke-13 dunia dan posisi pertama di regional ASEAN.
Salah satu subsektor yang turut berperan dalam memperkuat capaian tersebut adalah industri furnitur.
Selain memberikan nilai tambah bagi perekonominan nasional, sektor ini juga dikenal sebagai industri padat karya yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar serta mendorong aktivitas ekonomi di berbagai daerah.
Agus melanjutkan, industri furnitur merupakan model hilirisasi kayu yang krusial karena bersifat padat karya, mampu menciptakan nilai tambah.
Serta memberikan efek berganda bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
“Sektor ini juga menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan terhubung langsung dengan pasar global yang nilainya mencapai lebih dari USD 736,21 miliar. Dalam lima tahun ke depan, Indonesia diproyeksikan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga mampu memimpin dalam aspek desain dan keberlanjutan,” ungkapnya.
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika menambahkan, industri furnitur merupakan sektor manufaktur strategis (strategic manufacturing sector) yang menjadi pilar hilirisasi berbasis sumber daya alam.
“Kami berkomitmen mendorong transformasi industri furnitur tidak hanya sekadar produsen namun juga menjadi pusat manufaktur global yang berbasis desain dan keberlanjutan,” kata Putu.
Dalam perkembangannya, sektor industri furnitur dalam negeri masih menghadapi sejumlah tantang.
Di antaranya penurunan ekspor sebesar 3 persen pada tahun 2025 (menjadi USD 1,85 miliar) dan kenaikan impor sebesar 6 persen (menjadi USD 0,82 miliar).
Lebih lanjut ia menjelaskan, tantangan lainnya berasal dari geopolitik yang menghambat logistik serta regulasi lingkungan global seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang harus dijawab dengan kesiapan sertifikasi.
Menanggapi tantang tersebut, Indonesia telah memiliki modal kuat melalui Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK) agar produk furnitur nasional tetap responsible dan sustainable.
“Kemenperin terus berkomitmen untuk meningkatkan produktivitas salah satunya melalui Program Restrukturisasi Mesin/Peralatan Industri Pengolahan Kayu,” tegasnya.
Hingga saat ini, program tersebut telah memfasilitasi 35 perusahaan dengan total nilai reimburse mencapai Rp 26,1 miliar.
“Dampaknya sangat nyata, dengan efisiensi proses sebesar 10,70 perseen, peningkatan mutu produk sebesar 36,28 persen, serta lonjakan produktivitas mencapai 32,65 persen,” imbuh Putu. (nis/opi)
Kinerja Industri Pengolahan
*Pertumbuhan 5,30 persen
*Salip pertumbuhan ekonomi nasional 5,11 persen
*Prestasi setelah 14 tahun
*Kontribusi ke PDB 19,07
*Nilai MVA capai USD 265,07 miliar
*Peringkat MVA:
1. Dunia posisi ke-13
2. ASEAN posisi ke-1
*Subsektor industri furnitur:
1. Serap ratusan ribu tenaga kerja
2. Terhubung dengan pasar global senilai USD 736,21 miliar
*Tantangan industri furnitur:
1. Ekspor turun 3 persen jadi USD 1,85 miliar
2. Impor naik 6 persen jadi USD 0,82 miliar
3. Hambatan logistik akibat krisis geopolitik
Sumber: Diolah
Editor : Nofilawati Anisa