RADAR SURABAYA BISNIS – Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak cepat mengantisipasi dampak fenomena iklim El Nino yang diprediksi akan kembali melanda Indonesia pada tahun 2026.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan strategi pompanisasi skala besar untuk mencakup 2,2 juta hektar lahan sawah di seluruh Indonesia.
Langkah ini diambil menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan adanya peluang sebesar 50-60 persen terjadinya El Nino kategori lemah hingga moderat sepanjang tahun 2026.
"Kami sudah siapkan pompanisasi untuk 2,2 juta hektar sawah agar pada saat musim kering, lahan-lahan tersebut tetap bisa kita aliri air," ujar Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Proyek pompanisasi ini akan difokuskan pada 1,2 juta hektar lahan sawah tadah hujan, sementara 1 juta hektar lainnya merupakan tambahan jangkauan baru.
Air akan dialirkan dari berbagai sumber mulai dari sungai, embung, hingga sumur dalam yang telah dipetakan sebelumnya.
Selain infrastruktur air, Kementan juga mendorong penggunaan varietas bibit unggul yang lebih adaptif terhadap kekeringan.
Salah satunya adalah bibit jenis Bio Salin yang dikenal tahan terhadap kondisi air payau dan minim curah hujan.
Meskipun BMKG memprediksi musim kemarau akan datang lebih awal di 325 zona musim, Mentan Amran Sulaiman tetap optimis. Menurutnya, pengalaman menghadapi El Nino dahsyat pada tahun 2015, 2016, dan 2023 menjadi modal kuat bagi pemerintah.
"Kondisi El Nino tahun ini diprediksi tidak sedahsyat tahun-tahun sebelumnya. Infrastruktur kita sekarang jauh lebih siap. Ibaratnya, kita sudah sedia payung sebelum hujan datang," tambahnya.
Langkah proaktif ini diharapkan tidak hanya menjaga produktivitas petani, tetapi juga menjaga stabilitas harga pangan nasional di tengah tantangan iklim global yang kian tidak menentu.
Editor : Hany Akasah