Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Bukan Hanya BBM, Stok LPG RI Kini Terancam Akibat Ketegangan di Selat Hormuz

Hany Akasah • Jumat, 6 Maret 2026 | 15:51 WIB

ANGKUT: Aktivitas penambahan stok LPG di salah satu pangkalan sebagai bentuk persiapan menghadapi kemungkinan lonjakan kebutuhan LPG 3 kg.
ANGKUT: Aktivitas penambahan stok LPG di salah satu pangkalan sebagai bentuk persiapan menghadapi kemungkinan lonjakan kebutuhan LPG 3 kg.

RADAR SURABAYA BISNIS – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berujung pada penutupan jalur pelayaran Selat Hormuz mulai menebar ancaman serius bagi ketahanan energi Indonesia. 

Tak hanya berdampak pada Bahan Bakar Minyak (BBM), kondisi ini diprediksi akan mengguncang ketersediaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) domestik dalam waktu dekat.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, memperingatkan pemerintah untuk segera mengambil langkah antisipasi. 

Menurutnya, ketergantungan Indonesia terhadap impor gas sangat tinggi, sementara LPG merupakan kebutuhan dasar yang menyentuh langsung urusan dapur rumah tangga.

"Konsumsi LPG dalam negeri mencapai sekitar 9 juta metrik ton per tahun, sementara produksi domestik baru sekitar 1,8 juta metrik ton," ujar Komaidi dalam keterangannya, dikutip Jumat (6/3/2026).

Artinya, terdapat celah sebesar 7,2 juta metrik ton yang harus dipenuhi melalui impor setiap tahunnya. Data menunjukkan bahwa sekitar 48% dari total impor tersebut berasal dari kawasan Timur Tengah, sementara 52% sisanya didatangkan dari Amerika Serikat.

Eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang melibatkan proksi regional dinilai sangat berisiko mengganggu stabilitas pasokan energi global. 

Penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur arteri perdagangan minyak dan gas dunia, menjadi titik krusial yang bisa menghambat kapal pengangkut LPG menuju Indonesia.

Komaidi menekankan bahwa dampak kelangkaan LPG jauh lebih berisiko dibandingkan BBM. Jika ketersediaan BBM menipis, masyarakat masih bisa menyiasatinya dengan mengurangi mobilitas atau menggunakan transportasi umum.

"Namun, kalau berkaitan dengan kebutuhan dapur atau memasak, masyarakat tidak punya banyak pilihan. Ini yang harus diantisipasi lebih serius oleh pemerintah," pungkasnya.

Editor : Hany Akasah
#konflik Iran Amerika Serikat #Komaidi Notonegoro #lpg #impor lpg #selat hormuz