RADAR SURABAYA BISNIS – Peta persaingan bisnis busana Muslim menjelang Idulfitri 1447 H atau Lebaran 2026 mengalami pergeseran signifikan.
Jika tahun-tahun sebelumnya model gamis mendominasi pasar, kini Baju Kurung Melayu muncul sebagai penggerak utama ekonomi di sektor modest wear.
Di pusat grosir terbesar Asia Tenggara, Tanah Abang, para pedagang melaporkan lonjakan permintaan terhadap setelan khas rumpun Melayu ini.
Tren ini diprediksi tidak hanya menyasar pasar domestik, tetapi juga merambah pasar regional seperti Singapura dan Malaysia.
Peluang Bisnis dari Kembalinya Tradisi
Pergeseran tren ini bukan tanpa alasan. Secara sosiologis, konsumen mulai mencari keseimbangan antara nilai kesantunan tradisional dengan sentuhan modernitas.
Hal ini memberikan angin segar bagi para pelaku UMKM dan desainer lokal untuk berinovasi.
"Baju Kurung Melayu menawarkan struktur dua bagian (atasan dan bawahan) yang lebih fleksibel. Ini yang dicari konsumen dengan mobilitas tinggi saat hari raya," tulis laporan tren pasar tersebut.
Inovasi Material dan Detail Jadi Nilai Jual
Dari sisi bisnis, variasi material menjadi strategi utama para produsen untuk meningkatkan margin keuntungan.
Penggunaan kain shimmer, satin silk, hingga bahan Toyobo yang nyaman namun tampak mewah, menjadi daya tarik bagi segmen pasar menengah ke atas.
Baca Juga: Waspada Zat Berbahaya, Begini Cara Pelaku Usaha Kuliner Pastikan Takjil Aman dan Tetap Cuan
Beberapa fitur yang paling banyak dicari oleh konsumen meliputi:
- Aksen Bordir Vertikal: Memberikan ilusi tubuh lebih jenjang.
- Fitur Busui-Friendly: Menambah fungsionalitas bagi ibu menyusui.
- Cutting Longgar: Tetap elegan tanpa harus memperlihatkan siluet tubuh secara ketat.
Keberhasilan Baju Kurung Melayu menggeser popularitas gamis membuktikan bahwa pasar busana Muslim Indonesia sangat dinamis.
Bagi para pelaku usaha, momentum ini menjadi peluang besar untuk meningkatkan omzet dengan menghadirkan produk yang menggabungkan nilai budaya dan fungsionalitas modern.
Editor : Hany Akasah