Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Pasokan Terjaga, Inflasi Ramadan 2026 Melambat Signifikan ke Angka 0,68 Persen

Hany Akasah • Kamis, 5 Maret 2026 | 22:05 WIB

PANEN: Bapanas mengusulkan anggaran sebesar Rp 16,10 triliun di tahun 2026 guna memperkuat ketahanan pangan.
PANEN: Bapanas mengusulkan anggaran sebesar Rp 16,10 triliun di tahun 2026 guna memperkuat ketahanan pangan.

RADAR SURABAYA BISNIS – Di tengah tantangan ekonomi global, Indonesia mencatatkan sentimen positif pada sektor pangan nasional. 

Pakar Ekonomi Pertanian dari Universitas Indonesia, Ninasapti Triaswati, mengungkapkan bahwa inflasi pangan selama Ramadan 2026 terkendali di angka 0,68 persen, jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Pencapaian ini menjadi sinyal kuat bagi para pelaku usaha dan investor mengenai stabilitas daya beli masyarakat. Berdasarkan data historis, angka ini menunjukkan penurunan drastis jika dibandingkan dengan lonjakan inflasi pada Maret 2025 yang sempat menyentuh 1,65 persen, maupun inflasi Ramadan April 2022 sebesar 0,95 persen.

Stabilitas Harga Pangan Domestik

Menurut Ninasapti, melambatnya laju inflasi ini didorong oleh manajemen rantai pasok yang efektif dan distribusi yang lancar dari sentra produksi ke perkotaan. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026 menunjukkan bahwa andil kenaikan harga komoditas utama tetap berada di bawah 1 persen.

“Sektor pangan tidak menjadi tekanan inflasi utama pada Ramadan tahun ini. Ini merupakan kekuatan penyangga di tengah gejolak global,” ujar Ninasapti dalam keterangannya, Senin (2/3/2026).

Beberapa komoditas yang memberikan andil inflasi rendah di antaranya:

- Daging Ayam Ras: 0,09%

- Cabai Rawit: 0,08%

- Ikan Segar: 0,05%

- Cabai Merah: 0,04%

- Tomat: 0,02%

Waspada Risiko Eksternal dan Biaya Logistik

Meski kondisi domestik stabil, sektor bisnis perlu mencermati risiko eksternal. Ninasapti memperingatkan potensi gangguan perdagangan energi akibat konflik di Iran yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz. 

Hal ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia yang berdampak langsung pada biaya transportasi dan logistik pangan di Indonesia.

“Inflasi itu dinamis. Indonesia masih mengimpor BBM, sehingga biaya transportasi serta logistik pangan bisa ikut naik jika harga minyak dunia tidak terkendali,” tegasnya.

Sebagai solusi jangka panjang untuk menjaga stabilitas bisnis dan ekonomi nasional, Ninasapti mendorong penguatan program swasembada pangan agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor dan lebih tahan terhadap guncangan harga global.

Editor : Hany Akasah
#konflik global #pangan #inflasi #pakar UI #logistik