Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Gula Aren, Si Pemanis Alami yang Jadi Motor Baru Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri

Hany Akasah • Jumat, 20 Februari 2026 | 10:56 WIB

PEMANIS ALAMI: Gula Aren Kini Jadi Primadona Ekspor RI dan Penyelamat Ekonomi Desa.
PEMANIS ALAMI: Gula Aren Kini Jadi Primadona Ekspor RI dan Penyelamat Ekonomi Desa.

RADAR SURABAYA BISNIS – Gula aren kini bukan lagi sekadar komoditas pelengkap di dapur pedesaan. 

Di tengah meningkatnya kesadaran global akan produk pangan sehat dan berkelanjutan, gula aren bertransformasi menjadi pilar ekonomi desa yang menjanjikan melalui sistem agroforestri.

Data menunjukkan tren positif pada penetrasi pasar global. Sepanjang Januari hingga Oktober 2024, nilai ekspor gula aren Indonesia mencatatkan angka yang impresif, yakni mencapai USD 58,01 juta dengan volume sekitar 31,41 ribu ton. Lonjakan ini dipicu oleh pergeseran konsumsi masyarakat dunia yang mulai beralih ke pemanis alami minim proses.

Keunggulan Berbasis Lingkungan

Berbeda dengan perkebunan monokultur yang rentan terhadap perubahan iklim, pohon aren tumbuh subur dalam ekosistem agroforestri. 

Di desa-desa seperti Pasigitan, Kendal, aren ditanam berdampingan dengan tanaman hutan lainnya. Pola ini terbukti menjaga tutupan vegetasi dan struktur lahan, sekaligus memberikan penghasilan jangka panjang bagi warga tanpa merusak lingkungan.

Sistem "ekonomi sirkular" juga tercipta dalam pengolahan aren. Hampir tidak ada bagian yang terbuang; nira diolah menjadi gula cetak atau semut, sementara serat batangnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan atau kerajinan tangan.

Tantangan Standarisasi dan Modernisasi

Meski potensi ekspornya menggiurkan, perjalanan menuju pasar modern tidak tanpa hambatan. Banyak produsen skala rumah tangga yang masih terkendala standarisasi mutu dan sertifikasi.

"Pendampingan produksi diarahkan agar produk UMKM bisa mengantongi sertifikasi PIRT (Izin Produksi Industri Rumah Tangga). Ini langkah strategis agar gula aren kita bisa masuk ke ritel modern bahkan menjadi pemasok pasar ekspor," sebagaimana dikutip dari laporan lapangan di Kendal.

Selain sertifikasi, modernisasi teknologi pada tungku pengolahan dan penguatan koperasi menjadi kunci agar nilai ekonomi gula aren tidak hanya berhenti di pedagang besar, tetapi langsung mengalir ke dapur-dapur produksi di desa.

Baca Juga: Kondisi Jembatan Suramadu Memprihatinkan, Banyak Komponen Penting Dicuri dan Rusak

Dampak Sosial: Peran Perempuan dan Pemuda

Kebangkitan bisnis gula aren juga membawa perubahan sosial. Sektor ini membuka ruang partisipasi luas bagi perempuan dalam proses pengolahan dan pengemasan. 

Di sisi lain, digitalisasi pemasaran mulai menarik minat generasi muda desa untuk kembali ke sektor pertanian, menjadikannya bidang usaha yang modern dan kompetitif.

Dengan visi yang tepat, gula aren bukan sekadar pemanis minuman, melainkan simbol ketahanan ekonomi desa yang tumbuh selaras dengan alam.

Editor : Hany Akasah
#ekspor #agroforestri #umkm #Alami #pemanis #gula aren