RADAR SURABAYA BISNIS – Pemerintah mengumumkan jika Indonesia sudah mencapai swasembada pangan pada 7 Januari 2026.
Data menunjukkan produksi dan stok beras nasional berada pada posisi tertinggi sepanjang Indonesia merdeka.
Sektor pertanian juga mencatat pertumbuhan 10,52 persen dan menjadi salah satu penopang utama PDB nasional.
Bahkan, Indonesia memperoleh dua penghargaan dari Food and Agriculture Organization (FAO) atas kontribusi memperkuat sistem pangan global dalam waktu satu tahun.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan fase berikutnya adalah hilirisasi besar-besaran sektor pertanian dan perkebunan dengan total dukungan anggaran hingga Rp 371 triliun dalam tiga tahun ke depan.
“Hilirisasi itu bukan pilihan, tapi keharusan. Kita punya bahan baku terbesar dunia, tapi nilai tambahnya dinikmati negara lain. Ini yang harus kita ubah,” tegasnya dikutip, Kamis (19/2026).
Baca Juga: Hadiri Roundtable Business Summit di Washington DC, Presiden Prabowo Tegaskan Penguatan Kemitraan Ekonomi Indonesia–AS
Amran mengungkapkan Indonesia menjadi nomor satu produsen kelapa terbesar dunia.
Harga kelapa Rp 1.350, dan menurutnya jika dilakukan hilirisasi jadi coconut milk, coconut water, dan turunannya, nilainya bisa naik 100 kali lipat.
“Kita ini nomor satu kelapa terbesar dunia. Harga kelapa kita Rp 1.350. Kalau kita hilirisasi jadi coconut milk, coconut water, dan turunannya, nilainya bisa naik 100 kali lipat. Ekspor kita Rp 24 triliun, kalau diolah bisa jadi Rp 2.400 triliun, bahkan Rp 5.000 triliun,” tegasnya.
Baca Juga: Semakin Cantik! Dermaga Apung Gili Noko Bawean Rampung Telan Rp 1,87 Miliar, Ini Fasilitas Barunya
Ia juga menyoroti gambir yang 80 persen bahan bakunya dikuasai Indonesia, namun pengolahannya masih dilakukan di luar negeri.
“Sedihnya gambir kita diekspor, diolah di luar, lalu dijual kembali ke dunia. Potensinya Rp 5.000 triliun. Kita mau berubah atau tidak?” katanya.
Pada komoditas CPO, Indonesia menguasai 60–70 persen pasar dunia.
Dengan strategi penguatan biofuel dan pengurangan impor solar, nilai tambahnya dinilai bisa melonjak signifikan.
Baca Juga: Subandi Kawal Bansos 3 Miliar untuk Warga Sidoarjo, Ini Sumber Dana dan Daftar Penerimanya
“Kalau harga CPO rendah kita serap jadi biofuel dalam negeri, kalau tinggi kita ekspor. Kita bisa mainkan dunia. Sekarang nilainya Rp 549 triliun, bisa jadi Rp 1.500 triliun, bahkan Rp 5.000 triliun kalau hilirisasi penuh,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa lompatan hanya terjadi jika ada perubahan cara kerja dan keberanian keluar dari zona nyaman.
Mengutip Albert Einstein, Amran menyampaikan, “Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results.” kutipnya.
Baca Juga: Jawa Timur Rajai Bisnis Kedai Kopi di Indonesia, Tembus 100 Ribu Gerai
Menurutnya, organisasi atau individu yang bekerja biasa-biasa saja namun mengharapkan hasil luar biasa, tidak akan pernah mencapai lompatan besar.
“Hari ini kita sudah doa paling tinggi. Sekarang saatnya bertindak paling tinggi. Doa, mimpi besar, tindakan besar, dan konsisten, itu kunci keberhasilan,” tegasnya. (nis/opi)