RADAR SURABAYA BISNIS – Kementerian Agama (Kemenag) bersama Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) resmi meluncurkan gerakan kolaborasi multipihak bertajuk "Indonesia Berdaya – Joyful Ramadhan".
Langkah strategis ini membidik transformasi penyaluran zakat dari sekadar bantuan konsumtif menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi produktif yang berkelanjutan.
Dalam peluncuran di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (12/2/2026), Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menegaskan pentingnya akurasi data dalam efektivitas program.
Melalui skema Data Terpusat Penerima Manfaat Terintegrasi (DTSEN), pemerintah melakukan pemadanan terhadap 9.450 mustahik yang terdaftar dalam Desil 1-3 Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
"Kami memastikan intervensi zakat benar-benar menjangkau kelompok yang paling membutuhkan secara presisi. Integrasi melalui DTSEN ini mencegah tumpang tindih bantuan sekaligus memperkuat akuntabilitas publik," ujar Abu Rokhmad.
Dorong Kemandirian Ekonomi
Program ini tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan jangka pendek. Kelompok Desil 2 dan 3 akan difokuskan pada penguatan kapasitas ekonomi agar mereka memiliki daya tahan finansial dan tidak kembali terperosok dalam kerentanan.
Langkah ini sejalan dengan arahan Menko PM, Muhaimin Iskandar. Melalui sambutan virtualnya, ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi harus dirasakan langsung oleh masyarakat kelas bawah melalui proses pemberdayaan yang integratif.
"Zakat harus kita dorong menjadi instrumen transformasi sosial. Kita ingin masyarakat tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi menjadi aktor utama yang berdaya dan mandiri," tegas Muhaimin.
Ekosistem Zakat Digital
Sebagai tahap awal, delapan Lembaga Amil Zakat (LAZ) telah mengintegrasikan data mereka ke dalam sistem informasi zakat terpadu. Ke depan, ekosistem ini akan diperluas secara nasional untuk membangun basis data yang terkoneksi langsung dengan pemerintah.
Selain penguatan ekonomi, peluncuran ini juga diiringi aksi sosial berupa pemberian 1.000 bingkisan pendidikan dan 10.000 paket takjil yang tersebar di delapan provinsi prioritas kantong kemiskinan ekstrem.
Sinergi ini diharapkan menjadi contoh konkret kolaborasi antara kementerian, lembaga, dan mitra filantropi dalam mengakselerasi pengentasan kemiskinan di Indonesia.
Editor : Hany Akasah