Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Penjualan Eceran di Januari 2026 Diperkirakan Terkontraksi, Ini Penyebabnya

Nofilawati Anisa • Selasa, 10 Februari 2026 | 17:00 WIB
BELANJA: BI menyebut kinerja penjualan eceran secara tahunan ditopang oleh pertumbuhan kelompok barang budaya dan rekreasi, makanan, minuman, dan tembakau, serta subkelompok sandang.
BELANJA: BI menyebut kinerja penjualan eceran secara tahunan ditopang oleh pertumbuhan kelompok barang budaya dan rekreasi, makanan, minuman, dan tembakau, serta subkelompok sandang.

RADAR SURABAYA BISNIS - Bank Indonesia (BI) memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) Januari 2026 tumbuh sebesar 7,9 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Meski terjadi peningkatan secara tahunan tetapi ada risiko kontraksi IPR bila dilihat secara bulanan.

Bila dilihat lebih rinci kinerja penjualan eceran secara tahunan ditopang oleh pertumbuhan kelompok barang budaya dan rekreasi, makanan, minuman, dan tembakau, serta subkelompok sandang.

“Kinerja penjualan eceran pada Januari 2026 diperkirakan meningkat secara tahunan,” ungkap Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi, Selasa (10/2/2026).

Sementara itu, secara bulanan, penjualan eceran pada Januari diperkirakan terkontraksi sebesar 0,6 persen (month to month/mtm).

Hal ini sejalan dengan normalisasi konsumsi masyarakat setelah Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.

“Meski demikian, kontraksi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan kontraksi pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,7 persen (mtm),” kata Denny.

Untuk kondisi IPR pada Desember 2025, terjadi pertumbuhan 3,5 persen (yoy).

Hal ini disokong oleh pertumbuhan penjualan suku cadang dan aksesori, makanan, minuman, dan tembakau, serta barang budaya dan rekreasi.

Secara bulanan, penjualan eceran pada Desember 2025 tumbuh sebesar 3,1 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 1,5 persen (mtm).

“Peningkatan tersebut didorong oleh kinerja mayoritas kelompok, terutama peralatan informasi dan komunikasi, barang budaya dan rekreasi, suku cadang dan aksesori, serta makanan, minuman, dan tembakau sejalan dengan peningkatan permintaan masyarakat saat HBKN Natal dan Tahun Baru,” terang dia.

Sedangkan dari sisi harga, tekanan inflasi tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu Maret dan Juni, diperkirakan meningkat.

Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Maret dan Juni yang tercatat masing-masing sebesar 175,7 dan 156,3, lebih tinggi dibandingkan dengan IEH pada periode sebelumnya sebesar 168,6 dan 154,5.

“Peningkatan tersebut didorong oleh ekspektasi kenaikan harga pada periode HBKN Idulfitri 1447 Hijriyah,” pungkas Denny. (opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#makanan dan minuman #tembakau #bank indonesia #HBKN #idulfitri #SANDANG #penjualan eceran #indeks penjualan riil