Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, perajin barongsai di Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, mengalami lonjakan pesanan yang signifikan. Jelang Imlek 2577, perajin barongsai di Candi banjir order, bahkan hingga luar Pulau Jawa seperti Nusa Tenggara Timur (NTT).
Berkah Imlek tersebut dirasakan langsung oleh Julius (39), satu-satunya perajin barongsai di Sidoarjo. Di rumah sederhananya yang berada di Perumahan Shoji Land, Desa Karangtanjung, belasan kepala barongsai dan naga liong tampak berjejer dalam berbagai tahap pengerjaan.
Baca Juga: Transaksi Unik Pakai Uang Dobog! Kuliner Gresik Zaman Kerajaan Giri Ini Ludes Kurang dari 2 Jam
Menjelang puncak perayaan Imlek yang jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026, Julius mengaku harus bekerja ekstra dari siang hingga malam demi mengejar tenggat waktu pesanan.
“Kalau lagi ramai seperti sekarang, saya kerja dari siang sampai malam. Untuk satu kepala barongsai saja bisa butuh waktu sekitar satu bulan,” ujar Julius, Selasa (10/2).
Baca Juga: 157 Lahan Terdampak, Flyover Gedangan Jadi Proyek Prioritas Sidoarjo dengan Anggaran Rp 340 Miliar
Proses Pembuatan Rumit dan Butuh Ketelitian Tinggi
Julius merupakan perajin barongsai generasi kedua yang mewarisi keahlian dari orang tuanya. Seluruh proses pembuatan masih dikerjakan secara manual, mulai dari rangka, pelapisan, hingga detail wajah.
Menurutnya, proses pembuatan barongsai tidak bisa dilakukan secara instan karena membutuhkan ketelitian tinggi, terutama pada bagian mata, bulu, dan ornamen.
Baca Juga: Sound Horeg 1 Ton Tenggelam Bersama 10 Warga yang Asyik joget di Acara Nyadran di Sidoarjo
“Kalau kepala naga malah bisa sampai dua bulan karena ukurannya besar dan detailnya lebih banyak,” jelasnya.
Dalam setahun terakhir, Julius mampu menyelesaikan puluhan unit barongsai dan naga liong. Untuk tahun ini saja, ia telah mengerjakan sekitar enam kepala barongsai dan tiga kepala naga.
Pesanan Terus Meningkat Pasca Pandemi
Jelang Imlek 2577, perajin barongsai di Candi banjir order juga dipengaruhi meningkatnya minat masyarakat terhadap kesenian barongsai setelah pandemi COVID-19 mereda.
“Setelah pandemi, pesanan naik terus setiap tahun. Walau tidak drastis, tapi trennya positif,” ungkap Julius.
Selain itu, masuknya barongsai sebagai cabang olahraga di bawah naungan KONI juga turut mendorong pertumbuhan permintaan.
“Sekarang barongsai sudah jadi cabor dan dipertandingkan di PON. Itu bikin kesenian ini makin dihargai,” katanya.
Aksesori Masih Impor, Harga Capai Rp 6 Juta
Dalam proses produksi, Julius memanfaatkan bahan lokal untuk rangka dan sebagian besar material utama. Namun, beberapa aksesori seperti mata, jenggot, dan bulu masih harus diimpor dari China.
“Di Indonesia belum ada yang produksi aksesori seperti itu, jadi masih impor,” terangnya.
Baca Juga: Tempati Lahan 9,5 Hektar, Lokasi Sekolah Rakyat di Sidoarjo Bakal Terintegrasi Kampus ITS
Harga satu unit kepala barongsai bervariasi, tergantung kualitas bahan dan aksesori. Kisaran harganya antara Rp 4 juta hingga Rp 6 juta per unit.
“Kalau semua impor, harganya terlalu mahal. Makanya saya kombinasikan dengan bahan lokal supaya lebih terjangkau,” jelasnya.
Karya Tembus Luar Jawa hingga NTT
Tak hanya melayani pesanan dari Jawa Timur, barongsai buatan Julius juga telah menembus pasar luar daerah. Salah satu pesanan tahun ini bahkan dikirim hingga Nusa Tenggara Timur.
“Senang rasanya karena karya saya bisa dikenal sampai luar daerah,” ucapnya.
Julius berharap tren positif ini terus berlanjut dan semakin banyak generasi muda yang tertarik melestarikan seni barongsai.
“Mudah-mudahan kesenian ini terus berkembang dan makin banyak yang mencintainya,” pungkasnya.
Editor : Hany Akasah